Orang Aceh di kampung-kampung sangat akrab dengan Kisah Lukmanul Hakim. Orang kampung biasanya suka mengangkat ulang cerita itu ketika melihat situasi serba salah.

Siapa itu Lukmanul Hakim dan apa kisahnya?.

Dalam sejumlah catatan sejarah Lukmanul Hakim adalah orang yang disebut dalam Surat Luqman [31]: 12-19 yang terkenal karena nasihat-nasihatnya kepada anaknya.

Ibnu Katsir berpendapat bahwa nama panjang Luqman ialah Luqman bin Unaqa’ bin Sadun. Sedangkan asal usul Luqman, sejumlah ulama berbeda pendapat.

Ibnu Abbas menyatakan bahwa Luqman adalah seorang tukang kayu dari Habsyah. Riwayat lain menyebutkan ia bertubuh pendek dan berhidung mancung dari Nubah, dan ada yang berpendapat ia berasal dari Sudan. Ada pula yang berpendapat Luqman adalah seorang hakim pada zaman Nabi Daud.

Salah satu kisah Lukman bahwa pada suatu hari Luqman al-Hakim telah memasuki pasar dengan menaiki seekor himar (keledai), sedangkan anaknya mengikutinya dari belakang.

Melihat tingkah laku Luqman itu, orang-orang berkata, “Lihat itu orang tua yang tidak punya rasa, dia naik keledai sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki.”

Setelah mendengarkan desas-desus dari orang-orang tersebut maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat keduanya, maka orang di pasar itu berkata pula, “Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang ajar anak itu.”

Setelah mendengar kata-kata itu, Luqman pun naik ke punggung himar itu bersama anaknya.

Kemudian orang-orang berkata lagi, “Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, mereka sungguh menyiksakan himar itu.”

Karena ia tidak suka mendengar percakapan orang, Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi orang berkata, “Dua orang berjalan kaki, dan himar itu tidak dikendarai.”

Dalam perjalanan pulang, Luqman al-Hakim menasihati anaknya mengenai sikap manusia dan ucapan-ucapan mereka. Ia berkata, “Sesungguhnya tidak ada seseorang pun yang lepas dari ucapannya. Maka orang yang berakal tidak akan mengambil pertimbangan kecuali kepada Allah saja. Siapa pun yang mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya.”

Kemudian Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal agar kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tidak ada satu pun orang fakir itu kecuali mereka mengalami tiga perkara, yaitu tipis keimanan terhadap agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu), dan hilang kepribadiannya. Lebih celaka lagi, orang-orang yang suka merendahkan orang lain dan menganggap ringan urusan orang lain.”

Ternyata orang atau komunitas yang melihat sesuatu dalam perspektif serba salah telah ada sebelum Masehi.

Hana yang beutoi. Yang beutoi cit gobnya.

Nyan ban. That na teuh. []

 

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment