Salah satu hal yang harus kita syukuri di tengah ikhtiar kolektif kita melawan Covid-19 adalah munculnya peningkatan kepatuhan sejumlah warga kita untuk tetap di rumah.

Di medsos pun sejumlah netizen terus mendukung dan kempanyekan lewat #tetapdirumahsaja.

Lalu selama di rumah ngapain?.

Pasif atau produktif?.

Tentu, di rumah menjadi pasif atau produktif tergantung pilihan kita masing-masing.

Sejumlah kawan saya lewat medsos mengabari kegiatannya bersama keluarga selama stay at home for us.

Seorang kawan saya yang sehari-hari berprofesi sebagai ustad mengirim pesan WhatsApp kepada saya, “Selama stay at home saya harus mandi 5 kali sehari”. Pesan tersebut dikirim dengan diiringi meme ketawa. Mungkin mandi yang dimaksud adalah mandi wajib.

Saya kira tidak masalah karena ini juga aktifitas produktif dalam bingkai halalalan thayyiban.

Seorang kawan lain juga mengabarkan aktifitas produktifnya selama stambai di rumah.

Kawan saya ini selama di rumah melakukan aktifitas memanfaatkan lahan kosong di belakang rumahnya.

Dari video yang dikirim ke saya terlihat lahannya itu tidak seberapa luas. Tapi telah penuh dengan tanaman sayur mayur yang ditanam dalam kantong plastik.
“Insya Allah sebagaian kebutuhan dapur saya akan terpenuhi beberapa waktu ke depan”, tulisnya dalam pesan itu.

Kawan saya ini yakin sekali “swasembada pangan minimalis” akan hadir di Aceh beberpa waktu ke depan bila keluarga yang #dirimahsaja melakukan tindakan produktif seperti ini. Memanfaatkan lahan kosong.
“Contohnya bang, bila setiap KK pula campli, tomat, bawang, menjadi hal wajib selama #tetapdurumahsaja, minimal bumbu masak, setelah lockdown selesai, masarakat Aceh ban 5 juta droe ka mandiri”, katanya optimis.
Ini artinya #dirumah saja bukan berarti tidak produktif.

Selama di rumah kita dapat berinteraksi secara berkualitas dengan keluarga. Berbicara dari hati ke hati dengan keluarga. Termasuk mendengar secra utuh aspirasi bahkan protes anak-anak yang selama ini tidak tertampung.

Kawan saya yang lain punya cara sendiri membuat hari-harinya di rumah produktif. Pagi sore dia tilawah Al-Quran. Mengajar anaknya mengaji. Membimbing pekerjaan sekolah anaknya melalui teknologi daring.

Dia mengaku sudah teratur Shalat Tahajjud dan Dhuha. Juga shalat sunat ba’diah dan qabliah.

Kepada saya dia mengirim pesan WhatSapp, “Jangan sibuk bicara dan buat status Corona tapi lupa baca Al-Quran. Jangan lupa bicarakan makhluk, tapi lupa mendekati khaliknya”.

Ya, tergantung kita.

Berbagai kegiatan produktif – dengan segala kemudahan dan tantangan — dapat kita kerjakan di rumah.

Nyan ban. That na teuh. []

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment