Peristiwa politik di atas yang diperankan oleh Nabi SAW sendiri sesungguhnya mengajari kita bahwa bahwa politik tidak selamanya soal salah benar. Tidak selalu hitam putih, dan bukan sepenuhnya  perkara kalah menang.Apalagi bila peristiwa politik itu berlangsung sesama muslim. Maka klaim halal haram, kafir-muslim dan sebagainya bukanlah diksi dan narasi yang benar sesuai keteladanan politik yang diberikan Rasul SAW.

Tahun ini kita kembali merayakan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.

Perayaan maulid  —  sebagaimana pertama kali dirayakan oleh Raja Irbil (wilayah Irak sekarang), bernama Muzhaffaruddin Al-Kaukabri, pada awal abad ke 7 Hijriyah —  didedikasikan sebagai bagian dari upaya konsolidasi umat agar semakin mencintai Islam dan menjadikan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan dalam berbagai aspek kehidupan.

Begitu juga ketika kita generasi akhir zaman setiap tahun merayakan hari kelahiran Nabi SAW. Maka out put yang kita cari salah satunya adalah bagaimana segala peri hidup  Rasulullah SAW menjadi flatform kehidupan kita.

Membaca Sirah Nabawiyah sesungguhnya tidak ada ruang kosong dalam kehidupan Sang Nabi SAW sebagai rujukan kehidupan kita. Kesempurnaan teladan pada pribadi Nabi SAW dikarenakan Rasulullah SAW bukan hanya pribadi yang paripurna, pemimpin spritual dan agama, tetapi beliau juga karena beliau pemimpin politik yang tidak hanya handal tapi juga visioner.

Dalam sejumlah peristiwa politik yang Rasulullah SAW terlibat di dalamnya mengajarkan kita bagaimana seharusnya umat bersikap dan bertindak dalam setiap momentum politik yang ada.

Teladan Berpolitik

Sejarah mencatat dengan tinta emas betapa Rasulullah SAW adalah politisi agung, memiliki taktik dan strategi yang sangat visioner, selalu mampu menyelesaikan masalah dengan baik dan terukur  serta pada setiap akhir proses politik umat selalu berada pada posisi yang diuntungkan.

Paling tidak ada lima peristiwa yang politik pada masa Nabi SAW yang selayaknya menginspirasi kita bahwa politik itu damai dan selalu ada titik temu. Politik adalah seni merajut ketidakmungkinan menjadi mungkin. Politik dengan segala dinamikanya tidak boleh memutuskan silaturrahmi. Apalagi bila politik itu berlangsung di tengah- tengah umat dan oleh umat itu sendiri.

Dalam sejumlah peristiwa politik yang melibatkan Rasul SAW nyaris tidak ada keputusan ekstrim yang diambil Nabi SAW. Keputusan beliau sangat moderat, sederhana tapi visioner, dan oleh banyak pihak ketika itu Nabi SAW dianggap lemah dan tidak berdaya.  Dalam beberapa kasus, sejumlah sahabat bahkan mengeluh : “bahwa kalau begini keputusan Nabi kita telah kalah”. Tapi kemudian hari, kebijakan politik sederhana, moderat dan visioner, tidak ekstrem dan hitam putih  dari Sang Nabi justru mendatangkan kemenangan yang gemilang.

Kelima peristiwa politik tersebut terjadi pada dua peristiwa sejarah besar yaitu Perjanjian Hudaibiyah ( 628 M/ 6 H) dan  Fathu Makkah (630 M/ 8 H).

Perjanjian Hudaibiyah terjadi ketika kekuatan militer Islam berada di puncak setelah Rasulullah dan sahabatnya memenangi sejumlah peperangan. Ketika itu bersama lebih kurang 1000 pengikutnya Nabi SAW bermaksud melaksanakan ibadah umrah ke Mekkah. Tetapi begitu sampai di Hudaibiyah ( 22 M dari Mekkah) kafir Quraisy mencegat dan menghambat Rasulullah masuk Mekkah.

Setelah terjadi diplomasi lalu disepakati perjanjian damai yang dalam sejarah dikenal dengan Perjaanjian Hudaibiyah. Ada tiga isu politik  strategis dalam perjanjian tersebut. Tapi semuanya diselesaikan Nabi SAW dengan diplomasi kualitas tinggi dan moderat tapi menguntungkan umat.

Pertama saat penulisan teks perjanjian antara Ali bin bin Abi Thalib dengan Suhail bin ‘Amru.

Ali meminta agar ditulis nama Nabi SAW dengan kalimat Muhammad Rasulullah, tapi Suhail dengan etos kekafirannya keberatan dan meminta cukup ditulis Muhammad bin Abdullah. “Kalau kami akui Muhammad itu Rasul ngapain kami berperang “, tukas Suhail dengan mimik tegang.

Melihat ketegangan yang mengancam perjanjian itu, Nabi pun segera bertitah kepada Ali : “Tulis saja Muhammad bin Abdullah!”. Masalah pun clear. Dari rumit jadi sederhana.

Kedua, sebagian sahabat Nabi kecewa ketika Nabi sepakat dalam perjanjian itu umat Islam menunda masuk Mekkah untuk Umrah. Nabi SAW memilih mengalah ketika itu semata untuk hindari pertumpahan darah dan beliau yakin akan indah pada waktunya. Tinggal merawat kesabaran umat. Dan terbukti dua tahun kemudian, bukan hanya dapat berumrah ke Mekkah tapi sekaligus  Nabi SAW menaklukkan dan menguasai Mekkah.

Ketiga, ketika dalam perjanjian itu disepakati bahwa kalau ada anggota masyarakat Quraisy yang bergabung ke Rasulullah SAW harus dikembalikan, sebaliknya bila pengikut Nabi SAW bergabung ke Musyrikin Mekkah tidak dikembalikan. Ketika itu beberapa sahabat Nabi SAW menganggap kesepakatan ini adalah kekalahan dan kelemahan diplomasi umat Islam, tapi ternyata kemudian hari justru Rasulullah dan sahabatnya diuntungkan dari kesepakatan ini.

Dua kebijakan politik Rasulullah SAW lainnya yang moderat dan visioner terjadi saat Fathul Makkah (Penaklukan Mekkah).

Pertama, pada malam hari sebelum besok pagi dengan balatentaranya memasuki Kota Mekkah, Abu Sofyan ketakutan dan kalangkabut. Dia adalah tokoh utama perlawanan terhadap Nabi dan dia yakin besok hari Mekkah akan takluk di bawah panji Islam. Dia khawatir akan keselamatan dirinya. Dia takut akan menjadi target pertama dieksekusi ketika umat Islam menguasai Mekkah.

Di tengah kegelisahannya, Paman Nabi Abbas bin Abd Muthallib menjemput Abu Sofyan dan membawanya ke hadapan Nabi untuk menyerah dan minta perlindungan. Saat  Abu Sofyan di berada di hadapan Nabi, Umar bin Khattab pun datang dengan muka seram. Abbas meminta kemaafan dan perlindungan, sebaliknya Umar meminta izin kepada Nabi untuk memancung leher Abu Sofyan karena selama ini telah banyak menyusahkan umat.

Sejarah tidak menulis apakah ketakutan Abu Sofyan saat itu sampai keluar kencingnya, tapi Nabi mengambil langkah moderat: Memaafkan Abu Sufyan.

Kejadian kedua terjadi saat pagi hari Nabi memasuki dan menakluk Kota Mekkah. Seluruh penduduk Mekkah yang sebelumnya arogan dan bersikap kasar kepada Nabi dan sahabatnya tiba-tiba jadi takut dan kehilangan nyali. Banyak pihak ketika itu memperkirakan terjadi pertumpahan darah dan balas dendam.

Tapi apa yang terjadi!.

Tiba- tiba Nabi mengeluarkan instruksi moderat: Siapa yang masuk ke dalam Baitullah, aman. Siapa yang masuk ke rumah sendiri lalu menutup pintu, aman. Dan, siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, aman.

Tidak Hitam Putih

Peristiwa politik di atas yang diperankan oleh Nabi SAW sendiri sesungguhnya mengajari kita bahwa bahwa politik tidak selamanya soal salah benar. Tidak selalu hitam putih, dan bukan sepenuhnya  perkara kalah menang.

Apalagi bila peristiwa politik itu berlangsung sesama muslim. Maka klaim halal haram, kafir-muslim dan sebagainya bukanlah diksi dan narasi yang benar sesuai keteladanan politik yang diberikan Rasul SAW. Maka dari itu, paska khulafaurrasyidin, ada sementara ulama berpendapat bahwa uzlah atau mengasingkan diri dari hingar bingar politik jauh lebih baik ketimbang menjadi praktisi politik tapi menyebabkan umat semakin pecah belah.

Karena itu ritual maulid yang kita lakukan tahun ini seyogianya menjadi media pencerdasan politik umat. Maulid di samping wahana meningkatkan kualitas ketaatan dan ketakwaan kepada Allah SWA serta menjadi momentum konsolidasi kepribadian umat agar terus berikhtiar mengikuti peri hidup  Rasulullah dalam setiap dinamika hidupnya, juga kita harapkan menjadi kesempatan dan peluang berbagai elemen umat melakukan perenungan terhadap praktik dan dinamika politik umat selama ini.

Penceramah Maulid harus memberi pencerahan dan pencerdasan kepada umat dalam kontek politik dengan merujuk secara utuh dan komprehensif terhadap praktik dan kebijakan politik Rasullulah di masa hidupnya. Bahwa siapa pun yang membawa bendera politik umat maka segala kebijakan dan keputusan politiknya harus dapat menyatukan umat bukan sebaliknya membuat umat terpolarisasi secara ekstrem.

Tanpa upaya pencerahan dan pencerdasan politik seperti ini, maka setiap momentum politik, umat akan selalu menjadi rumput kering yang sangat mudah dibakar oleh berbagai kelompok dan kepentingan  untuk kepentingan politik pribadi dan jangka pendek mereka.

Cukup Sudah!

Peristiwa  politik Pilpres yang lalu sudah cukup menjadi pelajaran bagi kita untuk berpolitik secara cerdas. Berapa banyak silaturrahmi yang terputus karena beda kesebelasan dalam pilihan politik. Ke depan ketika ada even seperti ini kita berharap umat semakin cerdas.

Paling tidak marilah kita belajar pada pertandingan tinju.

Ketika kita menonton dari dekat dan menyaksikan para petinju saling memukul sekuat tenaga sampai jatuh dan berdarah-darah kita tidak boleh tersalut emosi lalu menjadi pendukung fanatik para pihak. Karena toh ketika akhirnya kita telah  terbakar api emosi, akhirnya kita baru sadar bahwa kedua petinju itu tidak “sungguhan”, buktinya setelah juri mengumumkan pemenang lalu mereka pelukan. Mereka sudah baikan, kita masih kebakaran.

Selamat merayakan Maulid Nabi 1441 H. Semoga sejumlah  peristiwa politik yang melibatkan Nabi SAW  yang pada bulan-bulan ini kita rayakan hari kelahirannya dapat menginspirasikan kita menjadi umat yang sadar dan cerdas politik. []

 

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment