Orang Aceh itu luar biasa.
Pemberani dan sangat optimis.

Sepelik apapun masalah yang menderanya. Sesusah apapun perkara yang dihadapinya. Orang Aceh selalu melihat sebagai sesuatu yang sederhana.

Sepele. Bukan masalah besar.

Mungkin karakter ini terbentuk dari perjalanan panjang peradaban orang Aceh. Hidup penuh tantantangan. Juga lama berperang. Sehingga keberanian terus terawat.

Termasuk peradaban kuliner. Bayangkan saja salah satu makanan orang Aceh adalah paku.

Dalam referensi sejarah dunia tidak ada satu suku bangsa pun yang makan paku. Kecuali orang Jawa pemain Kuda Lumping saat keserupan. Tapi beda, orang Aceh makan paku dalam kesadaran penuh.

Soal berani, orang Aceh tidak hanya mengaku dan membangga diri. Tetapi juga diakui dan dikagumi bangsa lain.

Orang Belanda saat menjajah Aceh tempoe doloe juga kagum akan keberanian orang Aceh.

Saking kagumnya orang-orang Aceh pemberani itu mereka sebut dengan istilah Gekke Atjehsche (orang Aceh gila), yang kemudian populer dengan sebutan Aceh Pungo.

Fenomena berani atau Aceh Pungo ini dapat kita baca dalam beberapa literasi yang ditulis oleh orang Belanda sendiri.

Misalnya di dalam The Dutch Colonial War in Aceh, dan Prominet Women In The Glimpse of History.

Hari- hari terakhir ini sementara orang Aceh kembali memperlihatkan mental pemberaninya.

Ketika negara dan bangsa lain yang memiliki teknologi informasi dan kesehatan yang maju? persenjataan canggih serta memiliki teknologi nuklir, merasa takut, khawatir serta cemas terhadap Virus Corona atau Covid-19, orang Aceh justru santai saja dan sama sekali tidak takut.

Boleh saja negara- negara besar dan maju seperti Cina, Amerika Serikat, Italia, Arab Saudi dan lain-lain takut dan panik, tapi tidak dengan orang Aceh.

Contohnya, lihat ketika anak-anak mereka diliburkan dari aktifitas belajar di sekolah dan diminta membatasi akses ke luar rumah sebagai antisipasi virus Corona, justru ayahnya berkerumum di warung kopi berjam-jam dan merasa beruntung punya waktu yang cukup karena tidak perlu antar jemput anak.

Di samping berani, bagi orang Aceh tidak ada masalah yang sulit dan berat. Semua masalah sederhana.

Termasuk soal Virus Corona yang begitu ditakuti dunia international. Tapi bagi sementara orang Aceh itu sih sederhana.

Cara orang Aceh memandang Virus Corona sebagai perkara sederhana antara lain dengan rilek mengatakan Corona tidak akan masuk Aceh karena di Aceh banyak orang berzikir. Karena keyakinan itu lalu tidak merasa penting dengan sejumlah rekomendasi teknis dari sektor kesehatan.

Karena dinilai sederhana saja, maka ada sementara orang Aceh justti menjadikan isu virus yang bermula dari Kota Wuhan, Cina itu sebagai lelucon dan hiburan.

Di medsos sejumlah orang Aceh, saya amati amari ada pulihan lelucon yang sengaja dibuat dan atau ditebarkan terkait virus itu.

Seorang pemilik akun, misalnya, memposting foto seorang gadis cantik berseragan militer dengan papan nama di dadanya tertulis “Corona”.

Di bawah postingan foto gadis yang bernama Corona itu pemilik akun membuat narasi sederhana: “Corona ini tidak membahayakan. Pasti Anda Suka”.

Kalau pemilik akun ini takut akan Corona pasti dia tidak posting demikian dan kawan-kawannya juga tidak meng-like.

Sebuah akun lain, misalnya, juga menjadikan soal Virus Corona sebagai lelucon.

Baginya Virus Corona itu sederhana, tidak perlu takut dan di bawa lucu dan ketawa aja.

Dengan santai pemilik akun medsos ini memposting status sebagai berikut.

“Info buat kamu Bapak-bapak.
Demi kesehatan bersama. Buat suami-suami yang menyayangi isteri. Sehubungan dengan wabah Virus Corona, dan ada kemungkinan virus tersebut menempel di uang, maka untuk sementara waktu tidak memberikan uang belanja sampai dengan 14 hari ke depan terhitung mulai hari ini untuk mencegah penyebarannya”.

Luar biasa.

Itulah contoh ketangguhan mental orang Aceh. Tidak mudah takut. Selalu optimis dan situasi pelik pun mampu dibawa rileks.

Dunia internasional, termasuk Cina sebagai negara pertama wabah ini berjangkit, bahkan WHO sampai hari ini belum mampu mengidentifikasi secara akurat dan menemukan obat akurat untuk virus ini.

Lembaga kesehatan sekelas WHO boleh saja pening dan pusing tujuh keliling belum menemukan obat Virus Corona, tapi ada orang Aceh yang yakin sekali bahwa soal obat virus ini bukan perkara sulit.

Di Aceh banyak obat penawar penyakit ini, kata seorang Aceh dalam sebuah video yang sengaja dibuaynya itu.

Seorang kawan saya, ketika dunia internasional pening dan pusing mencari obat Virus Corona, dengan rilek dan penuh percaya diri dia menawarkan obat mujarab yang dapat menyembuhkan.

Apa obat penawar virus itu?.

Sambil duduk di warung kopi dia pun membuat video terkait obat Virus Corona dan cara menggunakannya.

Obat itu adalah on ranup alias daun sirih.

Cara menggunakannya sederhana saja. Dia memperagakannya dengan baik.

Ambil daun sirih, dilipat kecil, masuk ke mulut. Dikunyah hancur. Lalu ditelan. Lakukan itu secara berkala.

Menurut kawan saya itu siapa saja yang membiasakan makan ranup akan terhindar dari Corona.

Orang Aceh lainnya juga mengaku punya obat penawar Virus Corona.

Dalam sebuah WAG dia memposting resep penyembuh Virus Corona itu.

“Kabar baik!. Virus Corona Wuhan dapat disembuhkan dengan semangkuk air bawang putih yang baru direbus. Banyak pasien juga telah terbukti efektif sembuh. RESEP: Ambil delapan (8) siung bawang putih dipotong kecil2, tambahkan tujuh (7) gelas air dan didihkan. Minum airnya. Sembuh dalam waktu semalam . Tolong bagikan dengan semua kontak Anda, dapat membantu menyelamatkan nyawa”, tulisnya penuh yakin di satu GWA kelompok intelek Aceh.

Orang Aceh memang berani dan karena kemampuannya mampu menyederhanakan masalah. Sejak dulu, sekarang, dan masa hadapan.

Dulu, zaman DOM yang kejam dan sadis itu orang Aceh juga berani- berani. Berbagai kasus besar dan berat ketika itu mampu dibicarakan dengan suara besar-besar dan ringan di meunasah atau di warung kopi.

Tapi ketika sewaktu-waktu diperiksa Kopasus , beberapa orang Aceh yang berani itu langsung bilang, ‘Bukan saya Pak”.

Tetkait Virus Corona, berani dan optimis bolh saja.

Tapi semuanya harus terukur dalam perspektif ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jangan pernah menyederhanakan masalah. Apalagi menyepelekan masalah.

Karena sikap Anda menyederhanakan dan menyepelekan masalah itu, bukan hanya mencelakai diri Anda tapi juga punya potensi mencelakai orang lain di sekeliling Anda.[]

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment