“Teman-teman seperjuangan semua,
saya ingin semuanya kembali bergandengan tangan.
Sebetulnya kita sehati dalam membangun Aceh.”
— Mualem (Muzakkir Manaf) —

Saya mengajak semua pihak di Aceh untuk “membaca” dengan benar headline Serambi Indonesia, 23/1, di bawah judul Mualem-Irwandi Semeja di Jakarta. Duduk semeja sebenarnya hal yang biasa, baik di restoran hotel lebih-lebih lagi di warung kopi seperti lazimnya di Aceh.

Tetapi karena yang duduk semeja ini adalah orang penting dan selama ini menjadi titik perhatian publik Aceh, maka berduaan di satu meja dua “selebritis” Aceh ini pun menjadi trand topik di media. Yang paling heboh tentu di media sosial/ dunia maya dengan berbagai varian komentar. Bahkan di sebuah kampung di pedalaman Aceh Timur — ketika beberapa hari yang lalu saya berada di sana — beberapa politisi kelas kampung di sebuah warung kopi dengan mata berbinar dan penuh bahagia berkata, “Nyan kapah meunye Mualem meusahoe ngen Bang Wandi”.

Duduk semeja Mualem – Irwandi tidak tepat atau masih jauh dari kebenaran bila “dibaca” atau ditafsirkan sebagai setting agenda persiapan mereka untuk berpasangan sebagai Cagub/Cawagub Aceh periode 2017 – 2022. Masih terlalu pagi serta jauh dan berliku untuk itu. Mari kita kesampingkan estimasi premature itu. Bila memang demikian yang akan terjadi, biarkan kemungkinan itu seperti air mengalir. Boh jok boh beulangan watee troh baroe taboh nan.

Lebih tepat bila peristiwa menarik tersebut justru kita “baca” sebagai kearifan dan kedewasaan berpikir dan bersikap dua elit politisi Aceh — sementara ada elit berpikir picik —- yang keduanya memiliki basis massa yang ril di lapangan. Tatap muka dua tokoh ini menjadi menarik karena selama ini diprasangkakan mereka bermusuhan. Tidak mungkin berbaikan. Seperti air dan minyak, sulit bersatu sekalipun berulang kali disatukan. Tapi dalam realitas politik semua kemungkinan dapat terjadi, karena salah satu “definisi” politik adalah seni merubah ketidakmungkinan menjadi mungkin.

Tapi kita yakin, ketika selama ini mereka tidak saling bertemu, baik Mualem maupun Irwandi sama-sama melakukan kontemplasi terkait apa yang baik dan semestinya dilakukan secara bersama-sama untuk kebaikan masa depan Aceh. Saya yakin nurani Mualem dan Bang Wandi setiap waktu mendapat bisikan misterius bahwa dengan alasan apapun dan dalam kondisi apapun silaturrahmi tidak boleh diputuskan. Justru dari kearifan lokal yang ada di Aceh sejumlah permasalahan komplek justru dapat diselesaikan dengan mudah melalui media silaturrahmi.

Intinya, kita yakini, dari sanubari kedua tokoh ini ada totalitas kesadaran demi masa depan Aceh. Beliau berdua kita yakini berkeyakinan bahwa prinsip kolektif kolegial, musyawarah mufakat, kerukunan sesama serta saling membangun dan menjaga hubungan baik merupakan prasyarat dalam membangun Aceh yang lebih baik.

Lewat pertemuan tidak “terduga” yang dilakukan Mualem dengan Irwandi tersebut, sesungguhnya Mualem ingin menyegarkan kembali kesadaran kolektif kita sebagai orang Aceh terhadap sejumlah hal yang kadang kala kita suka lupa.

Pertama, Mualem seperti halnya juga Bang Wandi ingin mengirim sinyak kesemua penjuru bahwa Aceh tidak dapat di bangun sidroe atau sabe keudroe-droe. Aceh harus dibangung secara bersama-sama, saban-saban, semua pihak dilibatkan tanpa mempertimbangkan hubungan biologis, geografis serta pertimbangan-pertimbangan primordial dan primitif lainnya.

Kedua, Mualem juga ingin mengingatkan kita bahwa seluruh realitas politik di Aceh itu harus dilakoni dengan rilek, bersahaja namun terukur dan sungguh-sungguh serta harus benar-benar dijauhi dari tipikal marah-marah dan dendam tanpa akhiran. Dengarkan penegasan Mualem terkait dengan silaturrahminya dengan Irwandi sebagaimana dikutip sejumlah media, “Teman-teman seperjuangan semua, saya ingin semuanya kembali bergandengan tangan. Sebetulnya kita sehati dalam membangun Aceh,”. Resapi juga suara hati Irwandi Yusuf terkait perasaannya terhadap Mualem. “Kami memang saling merindukan” ,kata Irwandi.

Last but not least , duduk semeja Mualem – Irwandi sejatinya harus dipahami sebagai dedikasi dua tokoh Aceh itu memberikan pendidikan politik yang humanis, konstruktif dan demokratis kepada publik Aceh. Bahwa perbedaan orientasi politik tidak seharusnya mendorong kita terus menerus membangun tembok permusuhan dan prasasti kebencian. Alih-alih mencurigakan pertemua dua mantan kombatan GAM itu, alangkah baiknya bila kita meresapi sejumlah pesan moral yang ada di balik semua itu.

Ketiga, yang dilakukan Mualem – Irwandi adalah implementasi subtansi penting dari syariat Islam yang didukung penuh dan sepenuh hati oleh Pemerintah Aceh. Seorang ustadz menegaskan kepaada saya bahwa Islam memang memerintahkan silaturrahmi. Islam mengecam siapapun yang memutuskan silaturrahmi, termasuk juga — kata ustadz itu — para tukang bisik yang memprovokasi stabilitas silaturrahmi. Rasulullah SAW mengingatkan kita bahwa sesama muslim tidak boleh saling mendiami — tidak berbicara — lebih dari tiga hari. Karena merajut silaturrahmi adalah kerja produktif, sedangkan memutuskan silaturrahmi kerja destruktif.

Mualem sangat paham akan pesan langit ini dan sadar benar bahwa seorang pemimpin yang matang, arif dan negarawan akan senantiasa membuka koneksi silaturrahmi dengan berbagai pihak. Dokter juga menasehati bahwa menyimpan dendam terlalu lama berpotensi penyakit hipertensi dan jantung. Inilah kesadaran keacehan yang mulai sirna yang ingin diangkat kembali oleh Mualem kepada kita. Aceh tidak mungkin dibangun dalam satu waktu secara bersamaan dengan membangun permusuhaan.

Keempat, kesediaan Mualem sebagai “orang kuat” yang saat ini posisinya sebagai Wakil Gubernur sekaligus Ketua Umum Partai Aceh bertemu dan bersilaturrahmi dengan Irwandi sekalian menjelaskan betapa sosok Mualem telah berevolusi begitu cepat seiring guliran waktu menjadi sosok yang memiliki kematangan emosional dan visioner. Umur Mualem boleh muda, tapi kedewasaan berpikir dan bersikapnya that meutunuha, melampaui interval durasi umurnya. Soal ini dalam wilayah antropologis Aceh dikenal dalam dua spesifikasi: ureung muda tapi tuhoe dan urueng tuha tapi hana tuhoe. Mualim sepertinya masuk ke dalam spesifikasi pertama.

Kelima, lewat ijtihadnya itu Mualem ingin mentransfer kearifan berpikir kepada semua pihak bahwa Aceh dengan problematika yang komplek tidak dapat dan tidak boleh dibangun sendirian, apalagi hanya didukung keluarga dekat dan beberapa pihak lainnya saja. Aceh haruslah dibangun dengan melibatkan segenap potensi anak negeri yang berasal dari berbagai pelosok. Tidak cukup dengan anak negeri tertentu dan dari pelosok tertentu saja.

Keenam, sebagai pemimpin Aceh ternyata Mualem makin lihai dan cerdas dalam membangun komunikasi politik lintas batas. Bahkan Mualem juga memiliki kecakapan mencairkan kebekuan komunikasi politik. Kepribadian seperti ini penting dimiliki oleh siapa saja yang memimpin Aceh, baik hari ini lebih-lebih di masa hadapan. Kerelaan seorang Irwandi yang “babak belur” pasca Pilkada menyatakan “saya siap membantu Pemerintah Zikir” adalah buah ranum yang dihasilkan dari komunikasi politik cerdas yang dibangun Mualem. Ini sesungguhnya sangat penting bagi stabilitas sebuah pemerintahan dan menghadirkan soliditas dukungan kekuatan politik dari akar rumput kepada Pemerintah Zikir. Ternyata Mualem sadar betul akan kondisi ini.

Ketujuh, dengan kerelaan Mualem bersilaturrahmi dengan Irwandi menunjukkan betapa Mualem menyadari akurasi pepatah kuno Tiongkok yang mengajarkan, “Seribu teman terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak”. Apa yang dilakukan Mualem ini adalah sebuah kesadaran personal bahwa seorang pemimpin harus meminimalisir musuh. Kebijakan diplomatif harus dikedepankan. Seorang pemimpin tidak boleh cepat-cepat dan keseringan marah. Dari itu yang dilakukan Mualem selama ini justru memperbanyak kawan dan meminimalkan musuh. Dan inilah sesungguhnya yang ideal dilakukan dalam rangka rekonsiliasi dan reintegrasi Aceh. Bukan sebaliknya yang dilakukan adalah tindakan dan kebijakan yang justru setiap hari melahirkan musuh-musuh baru yang potensial.

Terakhir, , lewat pertemuan dengan Irwandi, Mualem ingin mengajarkan kita akan keniscayaan bahwa semua orang Aceh harus memiliki spirit merekat yang pecah dan menyatukan yang berserakan. Orang Aceh ditakuti oleh siapa saja ketika bersatu padu. Dan akan menjadi bahan tertawaan dan dilecehkan banyak pihak ketika kita sulit bersatu, bahkan ketika niat bersatu saja tidak ada.

Tabek lima jari untuk Mualem dan Bang Wandi. Anda telah menginisiasi. Anda berdua telah memberi keteladanan (ushwatun hasanah). Tanpa silaturrahmi, reintegrasi dan rekonsiliasi Aceh adalah cang panah. Berbicara demi masa depan Aceh tapi disaat bersamaan terus bergerak kiri-kanan menyemai kebencian dan permusuhan adalah cerita boong!.he-he.

Ayo, seluruh bansa Aceh mari berjabat erat!. Kita buhul silaturahmi sesama kita!. Sekarang juga!. []

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment