Kampung ini bernama Lamsujen.

Terletak di Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar. Persis di kaki Gunung Gurutee arah barat. Dari Banda Aceh dengan kecepatan kenderaan standar dapat ditempuh dalam waktu satu jam.

Mendengar nama kampung ini memang ngeri-ngeri sedap.

Dalam Bahasa Indonesia, Lam Sujen  bermakna tempat suara jin.

Di Aceh dan juga di berbagai tempat lainnya nama suatu tempat sering dinisbahkan pada sebuah peristiwa fenomenal di kampung itu. Begitu juga dengan nama Kampung Lam Sujen.

Konon dari cerita turun temurun, dulu di wilayah ini sering terdengar suara asing dan aneh. Masyarat di sini  sulit mengidentifikasi suara apa dan siapa yang bersuara. Lalu sesuai dengan kondisi zaman, suara asing itu pun diasosiakan sebagai suara jin. Maka sejak itu jadilah tempat ini bernama Lam Sujen.

Tapi saat ini Anda jangan pernah bayangkan kampung ini ngeri dan beraura mistis karena tempat jin.

Tidak!. Sangat jauh dari kesan demikian!. Setiap langkah yang kami jejal kemarin kami tidak bertemu dengan jin.

Sungai yang Sejuk dan Jernih

Pertama memasuki kampung ini dari  Jalan Banda Aceh – Meulaboh di perempatan Simpang Lam Sujen belok ke kiri, di sebelah kiri jalan menuju kampung ini kita langsung disambut hangat oleh aliran sungai yang jernih, sejuk plus suara gemerincik air di sela-sela bebatuan sungai. Benar-benar suasana alami.

Anda tidak susah mengakses perempatan Simpang Lam Sujen itu. Karena ketika tiba di Wilayah Kecamatan Lhong dengan mudah Anda akan mendapati papan penunjuk arah yang kontras di sebelah kiri jalan. Ikuti aja penunjuk arah itu. Jangan bandel ..he..he

Kiri kanan jalan itu ada satu dua rumah penduduk di sela-sela hutan hijau. Selebihnya kiri kanan adalah hutan belantara yang masih hijau dan perawan yang di celah-celahnya dengan mudah kita  dapati kebun durian milik penduduk yang sedang panen.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Lamsujen adalah salah satu aliran sungai terbaik di Aceh. Bahkan mengalahkan Sungai Tangse yang juga indah itu.

Sungai Lamsujen ini dengan airnya yang jernih, mengalir tidak terlalu deras, tekstur kedalamannya terukur, airnya yang sejuk, plus sejumlah bebatuan yang menonjol kemudian menyebabkan resonansi suara gemerincik kiri kanan kita, serta pepohonan yang memayungi sekitanya membuat kita tidak terbakar hangatnya matahari, mengantarkan saya pada sebuah perasaan bahwa sungai yang hilirnya berujung ke Laut Gapui itu sangat ideal untuk mandi, berendam serta melepas penat di kala luang.

Bagi yang suka fotografer, bahkan selfi, tempat ini adalah jodoh yang baik.

Air yang jernih serta sejuk plus langit biru yang berawan di atas alam hijau Lamsujen

Hutan yang memagari sungai. Batu-batu yang menyembul di permukaan air mengalir meliuk yang dapat dijadikan tempat bersandar sambil berendam membuat latar objek foto semakin fotogenik.

Air sungai yang benar benar jernih dan sejuk di celah-celah bebatuan yang jauh dari cemar dan keruh membuat lokasi sungai ini benar-benar nyaman untuk wisata lokal keluarga.

Tidak seperti mandi di laut, ketika kita membawa anak-anak dan mereka mandi maka muncul kekhawatiran anak kita terseret ke laut lepas, maka mandi di Sungai Lamsujen ini kekhawatiran tersebut tidak ada sama sekali.

Kedalaman air sungai yang terukur  — saking terukurnya kita bisa melihat secara kasat mata punggung sungai karena airnya yang jernih — serta aliran air sungai yang tidak deras menghanyutkan, menyebabkan kita  tenang melepaskan anggota keluarga berenang bebas di tempat ini.

Di sungai yang sangat alami ini, menyelam pelan dan lamat-lamat beberapa waktu ke punggung sungai, kemudian pelan-pelan bangkit kembali sembari menatap langit hijau berawan dan hutan perawan di sekeliling Krueng Lamsujen ini, kita merasakan kesegaran yang luar bias, segala penat dan beban seperti tercampak dibawa arus sungai, dan serasa kita terlahir kembali dengan segenap energi positif baru untuk meretas kembali tugas-tugas keumatan sebagai khalifah di muka bumi ini.

Memasak di Alam

Suasana alamiah dan nikmat akan keindahan alam Krueng Lamsujen akan semakin sempurna bila di sela-sela berenang di celah bebatuan yang indah dan airnya yang sejuk ini kita selingi dengan memasak di alam terbuka.

Memang banyak pilihan untuk memenuhi logistik di tepi Krueng Lamsujen ini. Salah satunya memilih opsi prakatis  membeli makanan di kedai sebelum ke lokasi. Opsi ini mungkin senafas dengan teori makan sate tidak perlu piara kambing.

Tapi bila Anda benar ingin menikmati keindahan  dan energi alam yang positif sepanjang DAS Krueng Lamsujen ini, maka rekomendasi saya persedian makanan Anda jangan bawa dari rumah apalagi beli di kedai.

Pilihan memasak langsung di tepi Krueng Lamsujen merupakan pilihan yang menarik, praktis, menantang serta nikmatnya tidak dapat dijelaskan dengan kata.

Seperti yang kami lakukan Sabtu, 20/6, kemarin.

Memasak di Tepi Sungai Lamsujen
Memasak ayam kampung di tepi Krueng Lamsujen di sela-sela menikmati keindahan alam tempat ini

Kami memasak ayam di pinggir sungai itu. Kami hanya bawa  peralaatan masak dan material masakan.

Masak di sini tidak perlu pakai kompor.  Tungkunya adalah bebatuan terpilih di antara ribuan batu yang ada. Sedangkan perapiannyan kayu-kayu kering yang tersedia berlebih di pinggir  sungai.

Romantisme pun segera muncul. Baik ketika mengumpul kayu bakar. Memilih batu sebagai tungku yang “berintegritas” dan tidak mudah oleng yang dapat menyebabkan periuk dan isinya tumpah. Cara menghidupkan api. Tehnik mencampuri bumbu. Hingga ketika kuah mulai mendidih dan kita harus melakukan uji sampling keseimbangan daan kelezatan masakan dengan mencicipinya.

Semua itu yang terjadi di pinggir Krueng Lamsujen menjadi begitu indah, bermakna, dan tersimpan dalam memori sebuah keluarga yang melakukannya.

 Panen Durian

Minggu-minggu ini Gampong Lamsujen sedang panen durian.

Bukan hanya panen, tapi murah meriah. Di kampung ini ketika musim tiba, buah durian melimpah ruah. Suara motor naik turun pendakian Gunung Lamsujen menjemput dan mengantar buah durian dari pohon ke berbagai penjuru terus menderub dari pagi sampai sore.

Begitu kita memasuki Gampong Lamsujen dari perempataan Jalan Banda Aceh – Medan, kita langsung disambut bebarapa lapak penjual durian. Sebenarnya sensasi durian sudah kita dapati ketika kita melintasi Gunung Gurutee. Tetapi memasuki Gampong Lamsujen sensasi itu lebih membahana lagi.

Di tepi Krueng Lamsujen kami kemaren juga pesta durin. Tapi durian yang kami makan kenyang dan lahap itu bukan kami beli dari para pedagang yang ada di tepi jalan Lamsujen itu.

Kami langsung ke kebun durian yang ada di sepanjang aliran sungai itu.

Jernih dan sejuknya air Sungan Krueng Lamsujen, Lhong, Aceh Besar
Belahan durian Lamsujen. Meu keutam, meucroep. Plus aroma yang menantang.

Di samping buah durian yang masih segar karena baru jatuh dari pohonnya, dialog yang penuh akrap dalam Bahasa Aceh dengan penjaga durian di atas rangkang kayu membuat transaksi buah durian yang kami lakukan  di pinggir Krueng Lamsujern ini seakan menyambung kembali peradaban indatu yang selama ini  jarang kami lakukan.

Kemarin-kemarin saya hanya mendengar cerita orang, bahwa daging durian Lamsujen sangat enak. Saya tidak percaya. Hingga kemarin saya membuktikan sendiri, ternyata durian Lamsujen tidak enak. Tetapi enak sekali.

Setiap gigitan dan kunyahan  yang saya lakukan terintegrasi penuh segala syarat dan rukun enak dan nikmatnya durian. “Meucrop, meu keutam, meu anoe barang”, kata seorang anak muda Gampong Lamsujen yang menemani kami kemarin.

Ya, empat jam kami kemarin berinteraksi dengan alam Lamsujen sangatlah berarti dan penuh makna.

Maka saya pun semakin percaya terhadap pesan seorang Kakanda, bahwa menikmati hidup itu bukan soal  kuantitas, tetapi perkara kulitas.

Bukan soal lamanya kita hadir dalam sebuah momentum, tetapi sejauh mana kita mampu mengisi dan memaknai momentum itu dengan penuh kualitas.

Alamnya yang indah, air sungai yang sejuk, bersih dan bening serta gemercik suara di celah batu dan bercengkerama dengan keluarga di tengah alam yang hijau sepertinya cukup menjasi saksi kepada kami bahwa Krung Lamsujen dan alamnya yang indah itu tidak mengecewakan kami.

Kami bersama keluarga berjanji akan akan kembali lagi ke sini. Bagaimana dengan Anda?.

That na teuh. [].

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment