Kota Jeddah adalah lokasi destinasi ketiga yang saya kunjungi setelah Kota Mekkah dan Madinah selama menunaikan ibadah haji.

Perbedaan antara Kota Mekkah dan Madinah dengan Kota Jeddah seperti siang dan malam. Kota Mekkah seperti halnya juga Kota Madinah adalah dua kota yang sangat ketat menegakkan aturan syariat. Nuansa spritualnya sangat terasa dan kental.

Mekkah dan Madinah adalah dua zona yang dinyatakan sebagai haramain atau dua tanah haram. Setiap non muslim dengan alasan apapun tidak diperkenankan memasuki wilayah dua tanah suci ini.

Sedangkan Jeddah sekalipun masuk dalam wilayah teritotial Arab Saudi, daerah ini berada di luar radius dua tanah haram di atas. Sekalipun di setiap waktu shalat kita dapat mendengar dengan nyaring gema azan dari berbagai penjuru kota, namun kehidupan dan dinamika Kota Jeddah terlihat begitu liberalis. Memasuki Kota Jeddah di waktu siang, lebih-lebih lagi di waktu malam rasanya seperti memasuki sebuah kota yang gersang spritualitas. Kontras sekaligus antithesis dari Kota Mekkah dan Madinah.

Di kota ini sangat mudah kita dapati berbagai aktifitas yang berbeda dengan di Kota Mekkah dan Madinah. Dari amatan saya, gaya dan tipikal kota dan sebagian besar warga Jeddah tidak berbeda dengan Jakarta. Semuanya bebas lepas dengan segala akatifitas dan kehendak masing-masing tanpa perlu capek-capek merujuk pada kaedah-kaedah agama.

Kalau di Kota Mekkah dan Madinah tidak pernah kita jumpai para wanita tanpa jilbab, maka di kota pelabuhan ini wanita-wanita berambut pirang tanpa kerudung jamak kita dapati. Wanita-wanita tanpa menutup aurat dan berpakaian ketat lalu lalang dengan santai di lobi-lobi hotel. Begitu juga dengan sejumlah laki-laki yang bercelana pendek.

Otoritas keagamaan yang dikendalikan ideologi Wahabi nampaknya tidak dioperasionalisasikan secara efektif di kota ini. Tidak seperti di Mekkah dan Madinah, otoritas keagamaan Pemerintah Saudi begitu ketat menjaga dan mengawal setiap gerakan dan moralitas personal yang ada di kedua tanah haram itu. Di Kota Jeddah hanya ada persepsi “sederhana” dari Pemerintah dan masyarakat Saudi: bahwa yang tidak menutup aurat — yang wanita berbaju abaya saja tanpa kerudung sedangkan yang laki bercelana pendek —– itu adalah non muslim. Mereka tidak diganggu sepanjang tidak melanggar hukum positif di negeri itu. Sebagai kota dunia sekaligus kota terbuka, maka Kota Jeddah dinyatakan sebagai kota halal bagi siapa saja.
Di kota ini negara-negara asing yang memiliki hubungan diplomatik dengan Arab Saudi membuka sejumlah kantor konsulatnya, termasuk Indonesia. Sedangkan kantor kedutaan ada di Riyadh ibukota Arab Saudi. Kota Jeddah merupakan pusat perekonomian dan perindustrian Arab Saudi yang didukung oleh Pelabuhan Jeddah dan Bandara Udara King Abdul Aziz.

Kerajaan Saudi Arabia sebagai negara Islam yang berkomitmen menegakkan syariat Islam ternyata juga tidak mampu menutup diri secara totalitas dari anasir-anasir mu’amalah (hubungan social internaasional) yang non syar’i. Betapa karena pertimbangan fasilitasi, koneksi dan kenyamanan berinvestasi negara-negara asing non muslim, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi telah dengan sangat sadar memfasilitasi Kota Jeddah sebagai ‘tanah halal”.

Banyak hal yang sesunggungguhnya “diharamkan” syariat Islam telah “dihalalkan” Pemerintah Saudi di kota ini. Andai kebebasan pers serta keleluasaan LSM Saudi Arabia bersuara dan berteriak seperti di Aceh, maka sungguh sangat banyak daftar kritik yang dapat disampaikan pers dan LSM Saudi Arabia kepada pemerintah mereka terkait implementasi Syari’at Islam di kota ini.

Di beberapa tempat di Kota Jeddah di kala malam, seakan-akan kota ini bukan penggalan tanah yang merupakan bagian dari Saudi Arabia, sebuah negara syariat yang ditopang penuh ulama-ulama Wahabi yang konon dikenal konservativ. Seakan dengan dinamaika Kota Jeddah yang demikian, kota ini sepert berlokasi di Thailand atau Filipinan atau di lokasi-lokasi binal lainnya di dunia.
Mungkin ada yang bertanya, bagaimana sih perbedaan suasana antara Kota Jeddah dengan Makkah dan Madinah?.

Dengan sederhana saya hanya bisa menjawab: Di Mekkah dan Madinah aura spritualitas begitu terasa, kita begitu menyesali dosa dan merindukan keampunan-Nya. Sedangkan di Jeddah — bila kita tidak menjaga hati — kita akan segera melupakan hari kematian dan kehidupan akhirat. Kita dapat saja lupa baru berhaji dan berumrah. Ketika di Mina para ibu-ibu dengan emosional melempar jamarah, di Kota Jeddah para ibu-ibu terlihat begitu “emosional” dan tidak terkendali melempar rial untuk berburu belanja.

Pemerintahan Wahabi di Saudi Arabia super cerdas dengan win-win sulotions nya. Di Mekkah dan Madinah terlihat “wajah” Pemerintah Saudi yang begitu syar’i dan spritualis. Sedangkan di Kota Jeddah “wajah” Pemerintah Saudi begitu duniawi. Mekkah dan Jeddah, satu negara dua rasa. []

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment