Blok B yang diperbicangkan banyak orang itu di kampung saya.

Saya dan orang kampung justru tidak pernah mempersoalkan Blok B itu. Baik dulu sebelum diberi nama Blok B, sekarang dan di masa yang akan datang.

Saking tidak pedulinya, ketika media ramai memberitakan saya masih tidak sadar bahwa sumur minyak tua itu di kampung kami.

Saya bahkan  sempat ragu ketika ada yang bilang bahwa Blok B yang selama ini dikelola  PT Pertamina (Persero) melalui cucu usahanya Pertamina Hulu Energi (PHE) North Sumatera B (NSB) berada di kampung halaman saya.

Ternyata benar. Sabtu, 4/7, ketika aku pulang kampung ketidaktahuan saya itu terjawab.

Ternyata sumur tua penghasil minyak dan gas (migas) persis di kampung saya. Blok B itu terbentang di Kecamatan Tanah Luas dan beberapa kecamatan lain tetangga Kecamatan Tanah Luas.

Area  itu terhampar luas. Di atasnya teronggok sejumlah kilang minyak tua. Saking tuanya kilang-kilang itu sudah berkarat yang dapat dilihat dengan mata telanjang dengan jarak seratusan meter di tepi jalan dari pagar besi yang mengelilinginya.

Pagar besi yang masih kokoh itu  juga sudah terlihat dimakan usia. Beberapa bagiannya juga sudah berkarat. Sebagian besar pagar itu juga sudah dinaiki rumput lebat. Yang kadang-kadang juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk makanan ternak mereka.

Begitu juga dengan jalan beton hotmik yang menghubung dari dalam dan keluar areal itu sudah banyak sisinya yang bergelombang pertanda sudah lama tidak terawat.

Bahkan di banyak tempat di sepanjang jalan itu sudah berlobang. Di beberapa titik jalan itu  terlihat dari jauh seperti aspal yang ditumpuk kecil-kecil. Ketika dilihat dari dekat ternyata taik lembu milik masyarakat di sekitar areal Blok B itu.

Untuk memperlambat kerusakan jalan itu terlihat di kedua ujung jalan tersebut dipasang portal  dari besi besar dan kokoh.Hanya mobil berbadan kecil yang dapat mengakses ke dalam. Terlihat areal itu sepi. Kecuali beberapa skuriti yang masih tetap berjaga-jaga di dua tiga titik.

Dari sisi pagar terlihat area sumur gas yang kemudian diberi nama Blok B ini terlihat tidak terurus lagi. Menunggu operator baru yang akan merevitalisasi sumuar di area ini

Inilah area Blok yang masih diperbincangkan dalam berbagai dimensi terutama di medsos. Terletak dalam wilayah administratif Kecamatan Tanah Luas, Nibong, Matangkuli dan Syamtalira Aron.

Di beberapa lokasi terpampang pamplet bertuliskan: “OBJEK VITAL NASIONAL  BIDANG ENERGI SUMBER DAYA MINERAL. FASILITAS BLOK B (ONSHORE). FASILITAS BLOK NSO (OFFSHORE).

Pamplet tersebut dibuat dan dipasang Pertamina Hulu Energi NSP & Pertamina Hulu Energi NSO. Sang pengelola area itu.

Rupanya di area ini ada dua blok. Seorang warga Nibong yang menemani saya menjelaskan, “Nyan na dua blok teungku. Blok onshore nyan blok di darat, sedangkan offshore blok di laot”. Saya yang tidak paham masalah hanya mengangguk-angguk saja.

Kami di Kecamatan Tanah Luas dan wilayah sekitarnya sudah lama familiar dengan areal ini.

Alkisah, pada tahun 1971 Perusahaan minyak Standar Oil Company of New York yang pernah beroperasi di Sumatera berhasil mendeteksi bahwa di Aceh terdapat kandungan gas yang besar jumlahnya. Atas dasar itu, pencarian oleh Mobil Oil yang dikoordinasi Pertamina Unit I dikonsentrasikan di desa Arun. Desa Arun adalah desa di Kecamatan Syamtalira, Aceh Utara, yang namanya kelak digunakan sebagai nama perusahaan gas alam ini.

Pada tanggal 24 Oktober 1971, gas alam yang terkandung di bawah ladang gas Arun ditemukan dengan perkiraan cadangan mencapai 17,1 triliun kaki kubik. Hari itu merupakan hari ke-73 sejak uji eksplorasi yang dipimpin Bob Graves, pimpinan eksplorasi Mobil Oil di Aceh, dimulai.

Pada tahun 1972 ditemukan sumber gas alam lepas pantai di ladang North Sumatra Offshore (NSO) yang terletak di Sealat Malak pada jarak sekitar 107,6 km dari kilang PT Arun di Blang Lancang.

Pada tahun 1973 dilakukan pembebasan tanah sebagai areal pabrik eksplorasi migas di wilayah ini. Lalu pada 1974, PT Arun didirikan sebagai perusahaan operator. Perusahaan ini baru diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 19 September 1978 setelah berhasil mengekspor kondensat pertama ke Jepang (14 Oktober 1977).

Itulah yang kami tahu tentang araeal ini. Beberapa kali operatornya berganti tapi masyarakat kami tidak peduli. Sampai terakhir ini kami kembali dikabari media bahwa areal itu dikelola oleh PHE.

Dulu nama PT Arun dan Mobil Oil begitu terkenal. Siapa saja yang berhasil kerja di perusahaan ini begitu bergensi. Sampai ada orang tua yang  tertipu karena menikahkan anaknya dengan pria yang mengakui karyawan PT. Arun. Lhokseumawe  yang disebut sebagai kota petro dolar seperti kota yang tidak pernah tidur. Siang malam terus berdenyut dengan aktifitasnya. Tidsak seperti sekarang.

Sebagai warga Tahan Luas, Matangkuli, dan Arun ketika itu kami hanya sebatas bangga, bahwa di tempat kami ada kilang minyak. Sampai-sampai sejumlah warga Tanah Luas ketika itu dengan bangga menyebut Kecamatan Tanah Luas itu sebagai Bumi Gas.

Cuma sebatas itu. Tidak lebih. Masyarakat terutama kami para mahasiswa yang berasal dari keluarga miskin tidak pernah mendapat akses dan manfaat dari perusahaan ini. Termasuk dalam bentuk CSR.

Kami yang kuliah di Banda Aceh hanya mendengar ada beberapa kawan kami dari keluarga hebat – termasuk yang di luar Aceh – mendapat beasiswa dari Mobil Oil atau PT Arun . Mereka punya akses kepejabat di dalam. PT Arun dan Pemerintah Aceh Utara ketika itu tidak pernah melakukan pendataan yang serius terhadap anak-anak dari keluarga miskin yang sedang susah melanjutkan pendidikan. Terutama kepada kami anak petani miskin di pedalaman Aceh Utara.

Pun demikian kami bangga dengan Perusahan minyak itu di kampung kami. Apalagi ketika tahun 1990-an ketika membaca koran kami tahun bahwa hasil migas di Aceh Utara itu ternyata di bagi juga ke seluruh kabupaten kota di Aceh untuk mensubsidi APBD mereka yang belum semaksimal Aceh Utara pada masa itu.

Area perusahan Migas di Aceh Utara itu yang sekarang disebut Blok B pernah kami lewati dalam dua rasa. Senang karena terhibur dan takut karena jiwa kami terancam.

Hiburan yang kami dapatkan dari perusahaan migas itu macam-macam.

Kalau hari-hari tertentu kami pergi  ke ibukota kecamatan, kami singgah dulu di Nibong. Karena dekat kedai Nibong ada lapangan terbang yang setiap pagi naik turun pesawat membawa pekerja yang datang dan pulang Medan – PT Arun.

Dengan penuh ketakjuban, dari luar pagar perusahaan minyak itu kami menatap  pesawat helikopter mendarat atau meninggalkan lapangan terbang lkecil itu. Kami hanya membayangkan enaknya jika ada kesempatan naik pesawat. Lalu ketika pulang ke kampung kami cerita banyak-banyak soal pesawat yang kami tonton itu.

Kami yang ketika itu sekolah SMP tidak memilki jam tangan. Ketika kami melewati areal perusahaan minya itu dan pesawat di dekat Kedai Nibong sudah turun, maka itu jadi pertanda bahwa waktu sudah pukul 8 pagi. Dan itu artinya kami sudah terlamat datang ke sekolah. Ketika tiba di sekolah biasanya pintu gerbang sekolah sudah ditutup.

Para petani yang sawahnya dekat landasan pesawat Mobil Oil juga terhibur ketika pesawat itu mendarat atau terbang kembali dekat sawahnya. Mereka berhenti sejenak mencangkul, berdiri sambil memegang gagang cangkulnya menyaksikan pesawat itu terbang dengan berbagai komentar dan imajinasi yang mengalir.

Para pekerja di ladang minyak kampung kami ketika itu sebagian besar dari luar Aceh. Mereka memegang posisi stratergis. Memang ada putra daerah yang bekerja. Tapi tidak banyak. Mungkin yang agak dominan di sektor sekuriti dan clining service.

Yang paling menyedihkan justru ketika setiap hari warga kami berkumpul di tempat pembuangan sampah perusahaan minyak ini. Mereka menunggu datang truk pembuang sampah lalu. Mereka mencari dan mengutip sisa makanan dan kaleng bekas untuk mereka manfaatkan di rumah atau mereka jual.

Bekas lapangan terbang Mobil Oil di Nibong Aceh Utara. Di sisi pagar lapangan terbang inilah sewaktu-waktu kami menyaksikan pesawat helikopter milik perusahaan minyak ini mendarat dan terbang. Inilah salah satu nikmat yang dapat kami raasakan dari perusahan minyak di kampung kami ini.

Itulah areal Blok B yang terasing dan merasa asing dengan masyarakat kampung kami.

Dinamika yang terjadi bertahun-tahun di dalam areal ini tidak pernah sampai ke masyarakat kami di kampung-kampung. Yang kami ingat ketika ada sejumlah masyarakat berdemo minta perhatian perusahaan, perusahaan minyak itu meresponya dengan membagi-bagi bebek atau kambing kepada masyarkat. Mungkin mereka berpikir masyarakat kami pandainya hanya pelihara bebek dan kambing.

Kami juga pernah dihantui ketakutan dengan area ini. Masa itu adalah sekitar 90-an ketika Darurat Militer diberlakukan di Aceh. Di berbagai sudut area sumur minyak ini dijaga ketat aparat bersenjata bersenjata lengkap. Tidak bisa berbahasa Aceh dan bermuka manis.

Kadang-kadang berurusan dengan mereka tidak ada kaitannya dengan perkara serius. Tidak ada kaitannya dengan keselamatan bangsa dan dan keutuhan negara. Hanya karena anak muda melaju kenderaannya  melewati area ini dengan kecang dan suara kenalpotnya sedikit besar.Urusannya tidak sederhana. Bisa muka lembam-lembam plus tidur beberapa hari di posko keamanan provit ini.

Di luar itu informasi tentang area ini betul-betul senyap dari telinga orang kampung kami.

Kecuali beberapa waktu sebelum kontrak PHE terhadap Blok B ini berakhir. Waktu itu kami mendengar ada beberapa elit di Aceh saling bersitegang dan berebut besi bekas perusahaan tersebut merlalui mekanisme tender.

Semoga siapapun nanti yang beruntung mengelola Blok B ini, masyarakat kami di Tanah Luas, Nibong, Arun dan Matangkuli ikut tersenyum karena kecipratan manfaat.

Nyan ban. That na teuh.[]

 

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment