Mandela yang memiliki nama lengkap Nelson Rolihlahla Mandela mengakhiri perjalanaan panjangnya. Langkah pasti yang terus diayunnya dalam rangka melawan penindasan dan diskriminasi di Afrika Selatan yang selanjutnya menginspirasi keseluruh penjuru dunia dihentikan oleh deraan penyakit infeksi paru yang dideritanya. Mandela meninggal di rumahnya di Johannesburg, Afrika Selatan dalam usia 95 tahun (18 Juli 1918 – 15 Desember 2013).

Jalan panjang perjuangan Mandela melawan kebijakan politik apartheid — kebijakan politik diskriminatif rezim kulit putih di Afrika Selatan terhadap warga kulit hitam — telah melambung namanya ke berbagai belahan dunia saebagai ikon anti diskriminasi.

Pemimpin politik yang tertindas di berbagai penjuru dunia selalu mengasosiasikan suasana batiniah mereka dengan Mandela. Keberhasilan Mandela memimpin perjuangan warga kulit hitam dan kemudian dengaan arif daan bijak menyukseskan rekonsiliasi nasional di Afrika Selatan selalu menjadi rujukan banyak pihak di dunia.

Maka wajar saja kepergian Mandela untuk selamanya mendapat respon simpati dan empati dari berbagai penjuru mata angin. Sangat jarang tokoh dunia yang kematiannya mendapat apresiasi begitu luas. Memantau pemberitaan sejumlah situs berita, nyaris tidak ada pemimpin dunia yang tidak menyampaikan duka atas kepulangan pejuang apharteid di Afrika Selatan itu.

Bahkan menurut berita Kompas (7/12) mantan Presiden Megawati sampai menagis terisak-isak. Indonesia sendiri memang punya kesan tersendiri dengan sosok Mandela. Di samping pernah berkunjung selama tiga kali — berdasarkan berira RRI — ke Indonesia, Mandela ternyata juga suka pakai baju batik. Konon, Mandela mulai suka batik sejak dihadiahi baju batik oleh Presiden Soehato saat berkunjung ke Istana Negara 3 September 1994.

Melihat fenomena pemberitaan kematian Mandela dalam berbagai pespektif sepertinya Mandela akan menjadi tokoh yang akan dikenang sepanjang masa. Sama halnya seperti Mahatma Gandhi dan Marthin Luther King Jr.

Bagi Aceh Mandela layak dijadikan inspirasi ditengah usaha kolektif kita mewujudkan rekonsiliasi paska konflik yang berkepanjangan. Yusuf Kala sebagai salah seorang inisiator damai Aceh bahkan mengaku sebelum memfasilitasi damai Aceh dia menyempatkaan diri membaca delapan buku terkait serpak terjang Mandela mewujudkan rekonsiliasai di belahaan Benua Afrika itu.

Mandela memang tidak pernah ke Aceh. Tapi saya yakin semasa hidupnya Mandela tahu Aceh dan mengikuti terus menerus dinamika politik yang terjadi di Aceh, terutama menjelang penantanganan MoU Helsinki dimana Aceh sering menjadi pemberitaan sejumlah media internasional.

Afrika Selatan seperti hari ini dipastikan tidak ada andai kata setelah Mandela dan partainya —- African National Congress (ANC) — yang memenangkan pemilu multirasial pertama tahun 1994 di Afrika selatan setelah empat dekade di bawah penindasan kulit putih mandela tidak tidak segera merintis upaya rekonsiliasi nasional.

Mandela yakin dan tahu betul, bahwa pengabadian dendam dan kemarahan masa lalu tidak sehat bagi sebuah bangsa yang telah bersepakat untuk melanjutkaan perjalanaan sejarah kebangsaanya.
Terkait dengan rekonsiliasi yang dirintisnya di Afrika Selatan, Mandela dalam setiap kesempatan selalu menekan sebuah kearifan dan kebijaakaan budi yang diusungnya. “Kalau manusi bisa belajar saling memusuhi dan saling membenci, pasti juga bisa belajar untuk untuk saling mengasihi, dan saling memaafkan”, tegas Mandela.

Dengan penampilannya yang sederhana Mandela berhasil meyakinkan rakyat Afrika Selatan akan pentingnya mengubah energi kebencian menjadi energy saling mencintai. Akhirnya warga kulit hitam yang puluhan tahun ditindas rezim kulit putih memberi maaf terhadap kesalahan saudara sebangsanya itu. Maka sampai hari ini — sebagaimana diberitakan banyak media — rekonsiliasi sosial politik telah berjaalan dengan baik di negeri itu.

Padahal bagi Mandela sendiri pilihan untuk melakukan rekonsiliasi tuntas bukanlah perkara mudah. Mandela adalah korban kebikjakan rasialis rezim kulit putih di Afrika Selatan. Mandela dipenajara selama 27 tahun di sejumlah rumah tahanan tersadis di Afrika Selatan. Namun Mandela memiliki energi cinta yang luar biasa, dia tidak menuruti nafsu dendam dan amarahnya untuk membalas kejahatan dengan kejahatan ketika peluang dan kesempatan itu tersedia. Setelah berkuasa dan menjadi Presiden Arika Selatan dia tidak menjadi manusia pendendam apalagi mewarisi dendam kepada anak cucunya.

Sejak menjadi pemimpin “pemberontak”, menjadi presiden hingga tidak lagi menjabat , dalam catatan sejarahnya Mandela tidak pernah membeda-bedakan rakyatnya antara satu komunitas dengan komunitas lainnya.

Sebagaimana kita ketahui di Afsel banyak terdapat suku-suku dengan eskalasi ledakan egoisme yang tinggi. Namun semua suku-suku yang memiliki perbedaan tajam tersebut berhasil dirangkul Mandela. Mandela memperlakukan semua rakyatnya — dari suku manapun — dengan prinsip sama rasa sama rata. Mandela yakin dan tahu betul, bila konsolidasi internal Afrika Selatan tidak berhasil dilaksanakannya dengan tuntas maka masa depan Afsel akan suram. Karena itu salah satu prioritas Mandela ketika pertama kali menjadi presiden adalah menghapus perbudakan dan diskriminasi di tengah-tengah rakyat Afsel.

Sepanjang hidupnya Mandela memberikan contoh tentang kearifan dan kebaikan . Ketika tahun 1995 Mandela membentuk Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) dalam rangka menyelesaikan konflik masa lalu antara warga kulit hitam dengan kulit putih , Mandela dengan sempurna memprtaktekkan kearifan dan kebaikan sebagai seorang negarawan.

Ia selalu menyerukan bahwa rekonsiliasi adalah saling melapangkan serta memaafkan. Tanpa dua hal tersebut maka tidak akan pernah ada rekonsiliasi. Namun Mandela juga menegasakan, bahwa pengampunan tidak bermakna mengingkari pernah terjadi kesalahan atau pengalaman menyakitkan di masa lalu. Karena dengan saling melapangkan maka siklus batin yang terluka dapat diputuskan.

Dengan kekuasaan yang telah berada di tangannya, serta posisi politik warga kulit hitam yang semakin kuat atas komunitas kulit putih di Afrika Selatan, sebenarnya dapat saja Mandela tidak mengampuni mereka yang bertanggung jawab atas kebijakan politik apartheid di masa lalu.

Namun Mandela tidak melakukaan itu. Mandela hanya menginginkaan yang sederhana saja: Ia menentang dominasi kulit putih terhadap kulit hitam, juga sebaliknya dominasi kulit hitam terhadap kulit putih.
Memaafkan, tapi tidak melupakan adalah cara Mandela menyikapi sejarah bangsanya. Peristiwa-peristiwa buruk dan pahit dalam lintasan sejarah Afrika Selatan tidak boleh sama sekali dilupakan. Harus terus diingat rakyatnya agar tragedi kemanusiaan yang berjudul apartheid itu tidak terulang lagi di masa hadapan. Dari titik inilah Mandela ingin menjadikan sejarah bangsa Afrika Selatan sebagai pelajaran moral yang bernilai tinggi.

Kebijakan Mandela yang “memaafkan tapi tidak melupakan” dalam meretas rekonsiliasi pasca konflik panjang kulit hitam versus kulit putih di Afrika Selatan sangat relevan bila dibumikan di Aceh.
Kita berharap semangat moral Mandela ini dapat menjangkiti Aceh. Mari kita maafkan masa lalu dan kita bergandengan tangan membuhul masa depan. Jangan ada lagi darah yang tumpah dan nyawa yang melayang di Aceh.

Semangat moralis yang diusung Mandela inilah yang menyebabkan Mandela menjadi tokoh besar. Dia dihormaati, dicintai daan diapresiasikan oleh berbagai pihak lintas negara, etnis dan agama.
Mandela memang manusia biasa, ada lebih dan kurangnya. Namun sebagai pemimpin Mandela telah mewakafkan hidupnya secara totalitas untuk kepentingan rakyatnya. Membaca biografi serta reportase terkait dengannya, maka Mandela adalah pemimpin sejati. Pemimpin yang mencintai rakyatnya, daan rakyatnya juga mencintainya. Pemimpin yang akan selalu ada di hati rakyatnya, sekalipun jasadnya telah berkalang tanah.

Selamat jalan Madiba — panggilan kesukaan Mandela —, semoga kebajikan dan kearifanmu menginspirasi kami di Aceh!.

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment