Setelah saya mengamati langsung, ternyata benar seperti yang ditulis dalam buku sejarah, bahwa Kota Mekkah Almukarramah terletak di sebuah lembah. Dengan demikian posisi Ka’bah dapat dilihat dari bukit-bukit yang ada di sekelilingnya.

Kini, bukit-bukit yang ada di sekeliling bangunan yang pertama kali didirikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam itu telah penuh ditumbuhi hutan beton yang menjulang ke langit. Di sekeliling Mesjidil Haram begitu banyak gedung-gedung jangkung. Hotel berbintang dan mall tegak berdiri tidak sampai jarak seratus meter dari pintu bangunan mulia itu.

Pokoknya, kini Mesjid Haram seperti dikepung hutan beton. Inilah amatan dan perasaan saya ketika menatap dalam-dalam suasana mutakhir di sekeliling Baitullah dari lantai 21 Grand Zamzam Hotel yang berjerak sekitar 50 meter dari dinding Mesjidil Haram tempat saya menginap selama di Mekkah.

Bukit-bukit batu yang dahulu dijejaki oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, kini dihancurkan untuk pembangunan hotel-hotel bertaraf internasional. Banyak bangunan yang sekarang muncul di sekeliling Mesjidi Haram belum ada di tahun 2010 dan 2011 ketika saya mengunjungi Mekkah.

Pembangunan besar-besaran di haram al-syarif ini luar biasa, nyaris tanpa mempertimbangkan kepentingan umat Islam seluruh dunia terkait sejarah Islam dan faktor penting yang dapat meningkatkan motivasi ibadah. Konon, banyak situs sejarah telah punah. Kota Mekkah dan Madinah (haramain) secara historis menuju pada kepunahan. Banyak situs-situs sejarah telah digantikan oleh gedung pencakar langit.
Ustad Mahlil Nasution, seorang Mutawwif (pembimbing haji ) dari PT. Kharissa Tour & Travel Jakarta yang yang mendampingi saya selama ibadah haji menjelaskan bahwa dengan alasan pemurnian ajaran Islam, Rezim Wahabi yang saat ini menguasai Arab Saudi telah membongkar sebagian besar situs bersejarah.

Situs-situs sejarah yang kita baca dalam Buku Sirah Nabawiyah , saat ini sebagiannya sulit kita dapati lagi baik di Mekkah maupun Madinah. Salah satunya menurut penuturan Ustadz Mahlil adalah Baitul Mawlid.
Saat pertama kali Rezim Ibnu Su’ud yang berkolaborasi dengan Muhammad bin Abdul Wahab (pengagas ajaran Wahabi) menguasai Mekkah tahun 1920 M, Baitul Mawlid (kubah dan atap rumah tempat nabi Muhammad dilahirkan) diratakan dengan tanah. Lokasi tersebut sempat dijadikan sebagai pasar ternak, namun akhirnya difungsikan sebagai perpustakaan. Begitu juga dengan Jabal Qubais — tempat Nabi Ibrahim menyerukan umat manusia supaya berhaji — di atasnya saat ini telah didirikan istana Raja Arab Saudi.

Melihat maraknya pembangunan gedung pencakar langit di sekeliling Mesjidil Haram, wajar saja bila jamaah haji dan umrah bertanya: Apa sebenarnya latar belakang yang mendorong Kerajaan Arab Saudi “memagari dan mengucil” Mesjidil Haram dengan hotel berbintang dan mall?

Memang sangat menyenangkan, mondar mandir dari penginapan ke Mesjidil Haram. Bisa jalan kaki, ngopi dulu, lalu kembali untuk shalat di sekitar Ka’bah. Tapi apa benar dan sudah tepat hanya dengan cara demikian kemudahan dan kenyaman dapat diberikan kepada dhuyufurrahman atau para tamu Allah itu?.

Padahal jika yang diinginkan adalah kemudahan dan kenyamanan agar jamaah cepat sampai dan mudah mengakses Mesjidil Haram dari penginapan, mungkin bukan itu solusinya, tetapi Pemerintah Arab Saudi dapat mengupayakan moda transportasi yang memadai, representatif, nyaman dan moderen. Dan ini sangat mungkin dilakukan mengingat cadangan devisa Saudi Arabia sangat besar yang bersumber dari eksplorasi minyak serta sumbangan devisa dari jamaah seluruh belahan dunia yang datang tiada henti setiap waktu.
Sambil rehat di lobi Grand Zamzam Hotel , saya sempat berpikir: untuk kepentingan masa depan dan keagungan Baitullah, apakah sudah tepat kebijakan Pemerintah Arab Saudi membangun hotel dan mall yang sangat mepet dengan Baitullah dan Mesjid Haram?.

Ketika berada di lantai tertinggi hotel bintang lima di samping Mesjidil Haram itu, betapa hati saya sangat teriris melihat Ka’bah menjadi benda kecil dan sangat kecil di kelilingi oleh gedung-gedung pencakar langit yang megah.

Dari Ka’bah yang menjadi kecil dibanding gedung-gedung sekitarnya itu, kini dengan mudah kita mengakses mall-mall, hotel berbintang serta pusat perdagangan lainnya yang ada di sekeliling Mesjidil Haram. Begitu dekatnya!. Sehingg jika Anda berada di sisi Baitullah , Anda akan melihat gedung-gedung dan tiang-tiang pancang yang tinggi mengelilingi mesjid mulia ini.

Apakah gedung-gedung yang terlalu dekat mengepung Baitullah itu tidak megundang resiko?. Soal air misalnya, tidakkah air sumur zamzam akan tersedot untuk kebutuhan hotel dan mall?. Atau apakah fasilitas hotel berbintang dan mall yang begitu dekat dengan Mesjidil Haram tidak akan mengakibatkan air sumur zamzam berpotensi terkontaminasi atau tercemar oleh air kotor (air tinja dan lainnya) yang bersumber dari toilet hotel berbintang dan mall yang ada di sekeling Mesjidil Haram?.

Andaikan boleh berharap, alangkah indah jika radius satu atau dua kilo meter dari pelataran terluar Mesjid Haram itu dibebaskan dari segala bentuk bangunan, dan hanya diisi dengan taman, pelataran, landscape dengan segala macam benda serta pepohonan yang dapat menghijaukan dan menyegarkan udara di sekeliling Baitullah.

Alangkah indahnya pula jika dibuat kolam air mancur sederhana di sana-sini. Atau diperbanyak payung-payung indah seperi di Mesjid Nabawi dan biarkanlah hotel-hotel dan mall yang menjulang tinggi itu memiliki jarak yang cukup jauh dari Mesjidil Haram, sehingga keagungan Mesjidil Haram dan spritualitaasnya akan terawat sepanjang masa.

Tapi tentu ini hanya harapan seorang musafir, mari kita serahkan semua itu kepada Pemerintah Saudi, karena bukankah mereka telah mengklaim diri mereka sebagai khadimul haramain— pelayan dua tanah

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment