Dengan syarat seperti ini diharapkan laki-laki segera sadar  bahwa poligami itu tidak sama dengan hobi laki-laki tua mengoleksi berbagai jenis mobil yang tidak kuasa dikendarainya, tetap hanya dinikmatinya dengan cara menatap lamat-lamat .

Kawan saya Tgk. Musannif itu luar biasa. Di ujung masa tugasnya sebagai anggota DPRA beliau tetap semangat dan selalu ceria. Beliau sangat kreatif dalam mendesain suasana bahkan cenderung menghibur kita-kita.

Melalui Headline Serambi Indonesia, 6/7, di bawah  judul Aceh Akan Legalkan Poligami  harus kita akui beliau telah mamapu mengganggu “satabilitas kawasan” di Aceh. Bagi sementara pihak apa yang dinyatakan Tgk. Musannif itu lebih menggoyang dari Perang Dagang Cina – AS.

Jagat medsos penuh pro kontra dan diksi poligami seketika viral. Bahkan di beberapa rumah konon dikabarkan ada daun pintu dan piring makan yang harus diganti baru. Pernyataan Tgk. Musannif di media massa tersebut juga mendorong sejumlah ibu-ibu yang percaya Ilmu Daktiloskopi — ilmu yang mempelajari sidik jari — konon dikabarkan secara diam-diam memeriksa formasi jari kaki suaminya yang diyakini dapat memberikan indikasi apakah sang suami berpotensi melakukan poligami atau tidak.

Pernyataan Tgk. Musannif terkait poligami kemudian memantik memori saya akan sebuah nama di sebuah kampung.

Orang di kampung memanggilnya Utoh Mae. Nama aslinya Ismail. Profesinya sehari-hari utoh rumoh Aceh (tukang bangun rumah Aceh). Profesinya sebagai utoh  inilah kemudian      — sesuai tradisi lakap di Aceh — laki-laki yang tinggi kekar dan lumayan ganteng ini pun lebih dikenal dengan nama Utoh Mae.

Dulu membangun sebuah rumoh Aceh tidak ada skidul waktu yang jelas. Rata-rata sebuah rumoh Aceh selesai dibangun dengan waktu di atas 3 tahun, tapi biasanya lebih lama lagi. Penyebabnya macam-macam.  Salah satu alasan utama adalah soal kinerja utoh.

Utoh rumoh Aceh biasanya baru masuk kerja pukul sembilan pagi. Setibanya di lokasi utoh  tidak langsung bekerja , tapi makan pagi dulu. Dulu utoh rumoh Aceh disediakan makan minimal dua kali sehari oleh pemilik rumah, pagi hari dan siang hari plus kopi kental dan rokok Gudang Garam Merah.

Setelah makan pagi, utoh kemudian sejenak ngopi dan merokok yang membutuhkan waktu sekitar satu jam. Lalu memulai aktifitas pertamanya menggosok mata pheut  dan nyeh sekira setengah jam. Itu pun dilakukannya sambil merokok dan poh cakra. Setelah itu baru mulai kerja, itu pun kalau tida ada kedatangan yang menyebabkan waktu utoh  memulai kerja lebih larut lagi. Begitu juga pola kerjanya setelah istirahat dan makan siang. Pokoknya bertahun-tahun sebuah rumoh Aceh yang dibuatnya tidak kunjung siap.

Karena waktu yang diperlukan untuk membangun sebuah rumah Aceh relatif lama, dan saking lamanya, Utoh Mae  — seperti halnya kawan seprofesi dia —  sampai-sampai sempat kawin dengan anak pemilik rumah atau wanita lainnya yang berdekatan dengan tempat kerjanya itu.

Biasanya, dimana saja Utoh Mae bekerja dapat dipastikan di situ ada jejak isteri dan anaknya. Tugas dia hanya kawin dan beranak, tidak lebih. Saking banyak isterinya dan anaknya yang lahir di setiap lokasi kerjanya, sesekali ketika ada orang yang bertanya berapa orang isteri dan anaknya, Utoh Mae tidak mampu menjelaskan dengan baik dan akurat karena memang tidak pernah ada dalam pikirannya.

Menzalimi

Tipikal Utoh Mae inilah yang kemudian membuat narasi poligami dicaci, disudutkan, dan dianggap sesuatu yang tidak bermartabat. Pelakunya dinilai tidak memiliki integritas moral.

Padahal dalam nash agama kita, poligami justru tergolong perbuatan makruf. Karena ada oknum-oknum yang terus menerus melakukan tindakan zalim dalam poligami, akhirnya ada sementara kita yang berpikir justru lebih baik berzina dari poligami.

Disini kita harus berpikir objektif dan ridha terhadap syariat Allah. Yang kita tolak adalah poligami yang menzalimi dan dominannya ketidakadilan dalam setiap praktek poligami. Banyak fakta membuktikan bahwa sangat sulit seorang poligamer berlaku adil. Allah SWT telah mengingatkan kita  “ …kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinlah) seorang saja …”, QS An-Nisa/4:3.  Maka yang seharusnya kita tolak dan benci bukan syariat poligami, tetapi sejumlah praktik  menyimpang dari poligami.

Di Aceh dan banyak tempat lainnya,  praktek poligami rata-rata dilakukan mayoritas seperti pola poligami Utoh Mae.  Laki-laki seperti Utoh Mae, sekalipun berpoligami dengan justifikasi hujjah  agama, sesungguhnya yang bersangkutan persis seperti ayam jantan dan beberapa jenis binatang lain yang kerja dan hobinya  cuma  kawin saja, tanpa tahu dan mau tahu tugas, kewajiban dan tanggung jawab agama dan negara yang dibebankan pada seorang poligamer.

Dia hanya mengikuti nafsu syahwatnya saja, tidak peduli hak-hak isteri dan anak-anaknya.

Hubungannya dengan isteri seperti hubungan lumoe luah blang. Tanggung jawab dan kewajiban rutin dan masa depan anaknya sama sekali hampa dalam otak dan pikirannya. Meu aneuk lagee aneuk beude, lheuh beureutoh hana hubungan lee aneuk ngen beudee.

Sekalipun secara kasat mata kita dengan mudah mendapatkan fakta menjijikkan tentang poligami, tetapi ada juga catatan sejarah yang mendeskrepsikan betapa indahnya poligami ketika semuanya diawali dengan niat yang benar dan mengikuti tuntunan Allah dan Rasulnya.

Pola poligami seperti Utoh Mae  tersebut yang kemudiaan menyebabkan syariat Islam disalahkan. Maka dari itu selayaknya yang akan diatur dalam Qanun Keluarga yang sedang digodok DPRA itu bukan saja soal legalitas, tetapi lebih  mengkerucut pada konten semacam petunjuk teknis yang stresingnya lebih kepada perlindungan perempuan dari kesewenang-wenangan laki-laki dalam praktik poligami. Perempuaan dan anak-anak hasil dari praktik poligami harus mendapat perlindungan hukum dan jaminan masa depannya. Bukan memberi legalitaas kepadaa laki-laki untuk bertindak sesukanya atas nama syariat dan Sunnah Rasul untuk berpoligami

Perberat Syarat

Sebagai salah satu opsi yang diatur dalam agama kita, maka kita tidak pada tempatnya menyalahkan syariat Allah. Yang perlu kita lakukan secara kolektif kolegial — laki-laki dan perempuan — adalah menginisiasi hadirnya regulasi yang dapat memastikan keadilan dalam praktik poligami. Laki-laki model Utoh Mae harus mendapatkan efek jerak di setiap jengkal bumi Aceh. Bek rata sagoe na rumoh teumpat lhat sadeup.

Regulasi itu paling tidak minimal memuat beberapa subtansi berikut.  Pertama, poligami itu tidak perlu dilegalkan lagi dengan Qanun Aceh. Karena poligami — dengan memenuhi syarat dan ketentuan — telah dilegalkan oleh agama kita dan juga oleh hukum positif.

Kedua, karena poligami dibenarkan, agar berjalan pada koridor yang benar diperlukan SOP atau petunjuk teknis yang memuat jaminan hak dan kewajiban para pihak bila melakukan poligami. Dan ini saya kira kewenangan negara/ pemerintah daerah yang memiliki kewenangan khusus untuk mengaturnya.

Ketiga, salah satu hal yang perlu diatur dalam SOP  dimaksud adalah kemampuan keuangan dan kemampuana memberikah “nafkah batin” dari seorang laki-laki yang memutuskan berpoligami.

Untuk kemampuan keuangan, misalnya, sebelum berpoligami seorang laki-laki harus mendepositokan uangnya Rp.10.000.000.000 di bank atas nama isteri dan anak-anaknya dengan perjanjian di depan notaris bahwa deposito tersebut merupakan jaminan masa depan isteri dan anaknya karena pilihannya berpoligami. Deposito tersebut tidak boleh diambil lagi, persis seperti jaminan sanggah pada proses pelelangan barang/jasa Pemerintah. Angoh, hana balek lee.

Di saat bersamaan dia juga harus mendepositokan dengan jumlah yang sama untuk isteri mudanya dengan ketentuan sama, sebagai jaminan masa depan isteri mudanya bila kemudian hari dia tidak bertanggung jawab. Ini menjadi penting agar setiap laki-laki sebelum berpoligami terlebih dahulu berpikir waras, bahwa kawin itu tidak cukup bermodalkan atra alah nyan saja.

Keempat, terkait syarat kemampuan memberi “nafkah batin”, maka seorang laki-laki yang akan berpoligani harus terlebih dahulu memiliki rekomendasi kualitas  dan kapasitas memenuhi “nafkah batin ” dari dokter pemerintah. Ini perlu disyaratkan, karena ada fenomena menarik di medsos  akhir-aakhir ini yaitu gencarnya sejumlah pihak menawarkan herbal obat kuat. Diyakini ini terjadi karena faktor supplay and demand,  besar kemungkinan banyak laki-laki dewasa ini memiliki nafsu besar tenaga kurang. Ketidakmampuan memberikan nafkah yang satu ini juga membuat perempuan yang dipoligami terzalimi seperti kerakap di atas batu: hidup segan mati tidak mau.

Dengan syarat seperti ini diharapkan laki-laki segera sadar  bahwa poligami itu tidak sama dengan hobi laki-laki tua mengoleksi berbagai jenis mobil yang tidak kuasa dikendarainya, tetap hanya dinikmatinya dengan cara menatap lamat-lamat .

Saya yakin, bila ketentuan teknis di atas diatur  runut, maka tidak akan ada satupun wanita yang kesal dengan pernyataan Tgk. Musanif di Serambi Indonesia  beberapa waktu lalu.

Karena dengan persyaratan demikiaan saya yakin tidak  ada lagi laki-laki di Aceh yang bernyali menyalurkan hobi poligaminya. Seperti tidak beraninya pemancing mania pergi ke laut beberapa waktu setelah tsunami. Apalagi saya tahu betul banyak laki-laki Aceh galak sireutoh yoe siribee. Gagahnya hanya di faceebook. Khak. []

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment