Soal  kapan umat Islam menguasai Kota Roma,  itu merupakan perkara gaib. Seperti gaibnya nubuat Rasulullah terkait Kota Konstantinopel yang 567 tahun kemudian jadi kenyataan.

Hari-hari ini Hagia Sophia atau dalam Bahasa Turki disebut Aya Sophia menjadi trending topic.

Tidak hanya di Aceh, tetapi juga di berbagai pelosok dunia lainnya. Penyebabnya adalah keputusan Pemerintah Turki mengembalikan fungsi bangunan bersejarah itu menjadi mesjid.

Pro kontra pun terjadi. Paus Fransiskus – misalnya — mengaku sedih. “Saya memikirkan Istambul. Saya sedang memikirkan Hagia Sophia. Saya sangat sedih,” ujar pucuk pimpinan Vatikan itu.

Fransiskus sedang mempertontonkan split personalitynya. Dia sedih Aya Sophia dikembalikan  fungsinya sebagai masjid. Tapi lupa sejumlah mesjid indah di Cordova, Granada dan Toledo serta berbagai pelosok Spanyol lainnya diubah paksa jadi gereja. Hal yang sama juga terjadi di berbagai sudut Eropa yang sebelumnya pernah menjadi wilayah Kekhalifahan Turki Usmani.

Dulu pada 20 Jumadil Ula 857 H atau 29 Mei 1453 M, ketika Sulthan Muhammad Al-Fatih menguasai Konstantinopel (sekarang Istambul) dan di dalam kota itu berdiri megah Aya Sofia, Umat Nasrani di dataran Eropa juga terguncang.

Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam bukunya Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, menceritakan bahwa ketika itu para penyair dan sastrawan Barat – kalau sekarang media cetak, online dan televisi — berusaha sekuat mungkin meniupkan api kebencian dan semburan amarah ke dalam dada setiap warga Nasrani Eropa kepada Islam.

Begitupun dengan Paus Nicholas V  — penguasa Vatikan ketika itu — merasa sangat terpukul dengan kabar jatuhnya Konstantinopel. Dia mengeluarkan semua tenaga, energi, waktu dan semangat untuk menyatukan semua warga di Italia, serta mengobarkan semangat berperang melawan kaum Muslim.

Dalam sejumlah catatan sejarah disebutkan bahwa bangunan Aya Sophia yang ada saat ini awalnya dibangun sebagai sebuah gereja antara tahun 532-537 oleh Kaisar Romawi Timur, Yustinianus I.

Lalu pada 1453 M, Konstantinopel ditaklukkan Mehmed II alias Muhammad Al-Fatih Sang-Penakluk, Sultan Turki Usmani ke – 7. Oleh Al-Fatih bangunan indah ini dibeli dari Kaisar Byzantium kala itu yang bernama Constantine XI. Selanjutnya Al-Fatih mewakafkannya menjadi masjid.

Bukti otentik itu wakaf Al-Fatih tersebut  sempat diperlihatkan Pemerintah Turki dan dipublikasikan oleh berbagai media beberapa waktu setelah Pengadilan tinggi Turki mengeluarkan putusan pada Jumat, 10 Juli 2020 yang menegaskan bahwa konversi Hagia Sophia menjadi museum pada 1934 adalah melanggar hukum.

Putusan pengadilan itu membatalkan keputusan kabinet Turki pada 1934 pada masa Presiden Pertama Republik Turki, Kamal Attaturk. Putusan pengadilan ini juga menyatakan situs warisan dunia itu dibuka kembali untuk kegiatan ibadah muslim (masjid). Dalam beberapa situs pariwisata tercatat Aya Sofya menjadi museum kedua di Turki yang paling banyak dikunjungi, menarik hampir 3,3 juta wisatawan per tahun.

Kenapa Roma?.

Dulu, kini dan masa hadapan, Instambul  yang menjadi lokasi berdirinya Aya Sofia selalu menarik perhatian.

Di samping kota dan bangunannya yang indah, uniknya kota ini juga berada di atara dua benua. Sebagian Kota Istambul berada di sisi Eropa yang menjadi pusat perdagangan dan sejarah, sementara itu sepertiga penduduknya menempati sisi bagian Asia.

Di samping konten historis, pada dua kota itu ada tanggung jawab ideologis setiap jiwa muslim. Karena pada kedua kota itu ada nubuat Nabi SAW melalui hadits sahihnya yang wajib kita imani.

Soal  kapan umat Islam menguasai Kota Roma,  itu merupakan perkara gaib. Seperti gaibnya nubuat Rasulullah terkait Kota Konstantinopel yang 567 tahun kemudian jadi kenyataan.

Kota ini berpotensi – dan telah terbukti di masa lalu – menjadi gerbang pelebaran sayab peradaban Islam ke berbagai wilkayah Eropa dengan cara yang berbeda.

Kalau pada masa kejayaan Turki Usmani, hampir setengah wilayah Eropa dikuasai Turki Usmani dengan kekerasan senjata, maka pada era ini melalui gerbang Istambul dengan pendekatan kultural dan humanis lainnya, dapat saja ke depan Islam diterima dengan lapang oleh masyarakat Eropa.

Yang menarik, selain Konstantinopel, Kota Roma juga termasuk salah satu tempat yang disebut dalam nubuat Rasulullah SAW.

 “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan”, sabda Nabi SAW diriwayatkan Imam Ahmad.

Lalu dalam riwayat lain, salah seorang sahabat Nabi, Abu Qubail bercerita, ketika dia sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash,  Abdullah ditanya, ‘Kota manakah yang akan lebih dahulu ditaklukkan umat Islam, Konstantinopel atau Roma?’.

Abdullah kemudian berkata, ketika kami sedang menulis di sekitar Rasulullah SAW, kami bertanya kepada Nabi SAW: “Dua kota ini manakah yang akan lebih dahulu ditaklukkan umat Islam, Konstantinopel atau Roma?”. Rasulullah SAW menjawab, “Kota Heraklius akan ditaklukkan lebih dahulu”. (HR. Ahmad, ad-Darimi dan al-Hakim).

Dalam sejumlah referensi disebutkan bahwa hadits di atas dinyatakan  shahih oleh al-Hakim dan disepakati Adz-Dzahabi. Sementara Abdul Ghani al-Maqdisi menegaskan hadits ini hasan sanadnya. Syaikh Al-Bani sependapat dengan Al-Hakim dan Adz-Dzahabi bahwa hadits ini sahih. (Lihat Silsilah Ahadits al-Shahihah 1/3).

Dalam kitab Mu’jam al-Buldaan, karya Yakut al-Hamawi dijelaskan bahwa maksud Rumiyah dalam hadis di atas adalah ibu kota Italia hari ini, yaitu Roma.

Setelah pembebasan Konstantinopel tujuh abad yang lalu, hingga sekarang umat Islam belum berhasil membebaskan kota Roma. Penyebutan Roma setelah Konstantinopel tampaknya merupakan mukjizat tersendiri karena hingga sekarang Roma merupakan simbol agama Katolik dan juga peradaban Romawi (Barat).

Memang Rasulullah SAW tidak secara tegas menyebutkan kapan pembebasan Roma terjadi dan siapa pelakunya seperti halnya pembebasan Konstantinopel.

Syaikh Al-Albani ketika mengomentari hadits di atas, mengatakan, “Penaklukan pertama (Konstantinopel) telah berhasil direalisasikan melalui tangan Muhammad Al-Fatih. Seperti telah diketahui, penaklukan itu terealisasi setelah lebih dari delapan ratus tahun sejak kabar gembira itu disampaikan oleh Nabi saw. Dan pembebasan kedua (penaklukan Kota Roma) dengan izin Allah juga pasti akan terealisasi. Sungguh, beritanya akan Anda ketahui di kemudian hari. (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, jld. 1, hlm. 33, no hadits. 1329).

Penutup

Bagi kita umat Islam, ketika pro kontra berita pengembalian status Aya Sophia menjadi mesjid, maka umat Islam sebagai bagian dari peradaban besar bumi ini harus mengambil sikap sesuai nubuat Sang Nabi SAW.

Dengan merujuk pada hadits di atas, maka sesungguhnya isu Istambul (Konstantinopel) dengan segala yang ada di atasnya bukanlah narasi biasa. Ada nubuat Nabi SAW dan segala harapan umat di setiap  dinamika yang terjadi di kota itu.

Seperti halnya juga Kota Roma, Italia.

Di samping konten historis, pada dua kota itu ada tanggung jawab ideologis setiap jiwa muslim. Karena pada kedua kota itu ada nubuat Nabi SAW melalui hadits sahihnya yang wajib kita imani.

Soal  kapan umat Islam menguasai Kota Roma,  itu merupakan perkara gaib. Seperti gaibnya nubuat Rasulullah terkait Kota Konstantinopel yang 567 tahun kemudian jadi kenyataan.

Ketika masa itu tiba,  dunia akan kembali heboh. Bahkan lebih heboh dari kebijakan Erdogan mengubah kembali Aya Sophia menjadi mesjid.[]

 

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment