Sosok ini telah lama menjadi pusat perhatian saya.  Jarak jauh. Bukan secara langsung atau jarak dekat. Tapi melalui live  streaming facebook.

Dia seorang ulama muda. Pimpinan sebuah dayah di Bireun. Di dayahnya itu dia mengajar tiga kali sehari semalam. Pagi, setelah zuhur dan bakda magrib.

Ada yang membedakannya dengan kebanyakan guru dayah lain saat mengajar kitab kepada santrinya. Dia mengajar secara ofline  sekaligus online.

Secara ofline  atau tatap muka — sebagaimana lazimnya pembelajaran setiap dayah – saat mengajar dia berhadapan langsung dengan para santrinya. Tapi di saat bersamaan secara paraler pengajiannya itu juga online melalui live  streaming facebooknya.

Dengan demikian, ternyata yang mengikuti pengajian dia bukan hanya yang hadir lang dalam halaqah  nya, tetapi juga berbagai pihak lain dari berbagai tempat yang berminat belajar agama dengan tradisi dayah.

Hasilnya pun lebih efektif dan efisien.

Menurut beberapa pihak yang rutin mengikuti pengajian virtual ini justru “murid” virtual yang mengikuti pengajian lewat live streamin  facebook itu  berkali lipat lebih banyak dari yang hadir langsung di lokasi pengajian.

Ada dari kabupaten kota se Aceh, dari luar Aceh, bahkan dari luar negeri seperti Malaysia dan Brunai.

Ada tiga alasan saya tertarik, memperhatikan kemudian mengikuti senang pengajiannya secara virtual  itu.

Pertama, penampilan guru ngajinya nyentrik. Saya terhibur dan bahagia setiap melihat penampilannya. Sederhana tapi menarik. Konsistensi penampilan fisik, gaya bahasa dan bahasa tubuhnya pelan pelan memunculkan aura kharisma.

Penasaran dengan penampilannya?.

Tubuhnya kurus. Bahkan cengkring. Tidak terlalu banyak daging yang menempel di tulang tubuhnya. Tatapan matanya kadang tenang, adem dan mendamaikan. Tetapi sewaktu- waktu tatapan mata jernihnya itu berbanding terbalik dengan berat badannya. Tajam. Serasa menusuk dalam sanubari yang ditatapnya.

Rambutnya  yang dibalut surban itu panjang mengurai ke pundak. Mirip rambut Habib Bahar Smith. Suka memakai baju koko plus kain sarung lazimnya busana orang dayah. Di bahunya selalu tersandang kain ridak yang dibawanya kemana dia pergi.

Pokoknya berwibawa tapi nyentrik dan terlihat cerdas. Murah senyum dan ramah. Itu yang membuat saya suka.

Kedua, sebagai ulama muda penampilannya sangat humanis yang di antara lain terlihat dari sikapnya sayang keluarga. Ketika sedang mengajar  dia tidak  masalah diganggu dengan urusan keluarga.

Beberapa kali saya lihat tayangan pengajiannya lewat live facebook,  ketika sedang serius menjelaskan isi kitab tiba tiba dua orang anaknya datang mendekat lalu memeluknya hangat.

Alih-alih terganggu dan menghilangkan konsentrasinya, justru ulama muda ini menyambut hangat anaknya itu.

Dia peluk dan cium anaknya. Kemudian dia bicara pelan seakan mendalami isi hati anaknya. Tak lama kemudian anaknya pun menjauh dengan membawa secercah kebahagiaan di wajahnya setelah diapresiasi orang tuanya. Ulama muda ini pun kemudian melanjutkan pengajiannya seperti biasa.

Ketiga, bahasa dan cara penyampaian dalam pengajiannya itu sangat sederhana. Mudah dicerna dan dipahami kita yang awam. Termasuk saya.

Ulama muda ini namanya  Tgk. Muhammad Yusuf. Masyarakat dan muridnya memanggilnya dengan Abiya Rauhul Mudi atau Abiya Jeunieb. Pimpinan Dayah Rauhul Mudi Al-Aziziah, Gampong Blang, Bireun.

Saya tidak pernah berjumpa dengannya. Tapi saya selalu mengikuti dengan seksama pengajiannya. Dan tiga perkara alasan saya suka di atas adalah hasil amatan jarak jauh saya melalui siaran langsung facebooknya.

Rabu siang, 8/8, pada acara Rakor Pimpinan Dayah Cabang Dayah Darul Munawarah di Kuta Krueng Pidie Jaya saya bertemu dengan Abiya nyentrik ini.

Rupanya beliau juga alumni Dayah Darul Munawarah Kuta Krueng sekaligus alumni Dayah Mudi Mesra Samalanga.

Seperti saya duga laki laki alim ini sangat ramah dan mudah akrab.

Setelah saling memperkenalkan diri kami pun segera familiar . Lalu berlanjut dengan berbagai pembicaraan lainnya diselangi tawa renyah Abiya nyentrik .

“Lon tuan salah si droe murid Abiya melalui pengajian livestriming akun Facebook Abiya Rauhul Mudi”, kata saya kepadanya yang kemudian disambutnya dengan senyum lebar.

Abiya Jeuenib yang ramah, familiar dan bersahabat. Saat berjumpa di Komplek Dayah Kuta Krueng, Rabu, 8/7
Abiya Jeunieb yang ramah, familiar dan penuh persahabatan saat berjumpa di Komplek Dayah Kuta Krueng, Rabu, 8/7.
  • Akun facebook Abiya Jeunieb: https://www.facebook.com/abiya.r.mudi?__tn__=%2CdC-R-R&eid=ARCh9gdH0hWlz3V6NGl9UcB5q4HNO60CUPI7Qdkxq43KHE3T3YxkNf3hqLhRP71kvBbjcQLlL1uFyMKL&hc_ref=ARTIX2Xh7pUlsy6tNSb3zHLluwcvYwVZ-_RWqgWMAv88QMj-Q5D1Y8v3KD9nvy4lkY8&fref=nf

Pengajian live facebook yang dilakukan Abiya Jeunib  itu jauh dari kepentingan subscriber sebagaimana dilakukan sejumlah pegiat youtuber lainnya. Pengajiannya murni untuk pencerahan umat semata.

Saya berharap apa yang dilakukan Abiya Jeunib ini dapat menginspirasi sejumlah guru dayah lainnya di Aceh.

Manfaatnya jelas, masyarakat yang haus ilmu agama tapi tidak sempat hadir langsung di dayah, maka melalui pengajian virtual dengan media  live streamin  facebook mereka dengan mudah mendapat pencerahan melalui pengajian dari dayah.

Ini sangat mungkin dilakukan.

Saat ini nyaris semua guru-guru dayah di Aceh memiliki handphond android sekaligus punya akun facebook. Tinggal saja setiap guru dayah yang dipilih (yang sudah kapabel) setiap melakukan pengajian tatap muka di masing-masing kelasnya, juga secara bersamaan melakukan live streamin  melalui akun facebooknya. Dengan demikian pengajiannya tidak hanya menjadi konsumsi santri yang ada di dayah, tetapi juga masyarakat luas yang mengikuti tayangan langsung itu.

Screnschot live streaming facebook pengajian virtual Abiya Jeunib

Bila para guru dayah sepakat dan secara bersama-sama mau melakukan seperti apa yang dilakukan  Abiya Jeunib paling tidak ada dua konstribusi luar biasa yang diberikan para guru dayah sebagai bagian peradaban modern dayah Aceh.

Yang pertama, para guru dayah Aceh telah mengambil inisiatif  dan peran positif konstruktif mengisi ruang kosong media sosial dengan hal-hal yang bersifat religiusitas dan mencerahkan umat.

Dalam sessi sebagai pembicara pada Rakor Pimpinan Dayah Cabang Dayah Darul Munawarah di Kuta Krueng Pidie Jaya saya juga telah mengajak para guru dayah untuk tidak membiarkan ruang kosong media sosial sebagai lampo soh. Bila kita kalangan dayah tidak mengisinya dengan berbagai kebaikan, maka pihak lainnya akan mengisi dengan konten kebatilan.

Yang kedua, pengajian para guru dayah yang  live streamin  facebook akan secara otomatis terdokumentasi dan tersimpan dengan baik dan dapat diambil kapan saja, kecuali jika facebook tutup.

Dengan demikian rekam jejak kegiatan akademik dayah – salah satunya pengajian – akan selalu ada dan dapat diakses oleh siapapun.

Ayo siapa guru dayah lainnya yang akan mengikuti “ijtihad” Abiya Jeunib.

Nyan ban. That na teuh!.[]

 

 

Bagikan
0 CommentsClose Comments

Leave a comment